Blogroll

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 09 Januari 2014

My Super Junior ^^

Biodata Dan Foto Baru Super Junior, Group Boyband Supe Junior yang suka disebut dengan SUJU atau SJ ini merupakan salah satu boyband asal Seoul-Korsel/korea selatan yang sedang naik daun. Awalnya boyband ini beranggotakan 13 orang, akan tetapi dengan keluarnya Kibum dan Hangeng serta dengan Wamilnya sang leader Leeteuk oppa ditambah lagi yesung oppa, jadi bisa dibilang Super Junior sekrang beranggotakan 9 orang :(

ya sudah daripada kita lama-lama membahas tentang masa lalu SUJU mendingak sekarang kita menginjak acara pokok yaitu biodata para personel Super Junior.
dan berikut ini adalah Biodatanya.





biodata super junior 
1. Nama Asli: Han Geng, 박정수 (Hangul),  朴正洙 (Hanja), Hangeng (Mandarin)
Nama Panggilan: Nasi Goreng Beijing, Naga
Tempat / Tanggal Lahir: Mudanjiang, Provinsi Hei Long Jiang / 9 Februari 1989
Tinggi Badan: 181 cm
Berat Badan: 66 Kg
Golongan Darah: B
Agama: Atheis
Posisi: Dancer, Vokalis
Sub-Unit: Super Junior M
Status: Mengundurkan diri
Keahlian / Hobi: Ballet, Tarian China, Main Game


 
biodata super junior
  2. Nama Asli: Lee Hyuk-jae, 이혁재 (Hangul),  李赫宰 (Hanja), En He (Mandarin)
Nama Panggilan: Monyet, Manusia Berharga
Tempat / Tanggal Lahir: Goyangshi NeungGok / 4 April 1986
Tinggi Badan: 176 cm
Berat Badan: 58 Kg
Golongan Darah: O
Agama: Kristen
Posisi: Dancer Utama, Rapper Utama, Vokalis
Sub-Unit: Super Junior T, H, M
Status: Aktif
Keahlian / Hobi: Olahraga, Dengerin Musik, Tari

biodata super junior
 3. Nama Asli: Kim Hee-chul, 김희철 (Hangul),  金希澈 (Hanja), Xi Che (Mandarin)
Nama Panggilan: Heenim, Cinderella, Ular, Flower, Kim Pink
Tempat / Tanggal Lahir: Hoengseong, Kangwondo / 10 Juli 1983
Tinggi Badan: 179 cm
Berat Badan: 60 Kg
Golongan Darah: AB
Agama: Atheis / Agnostik
Posisi: Vokalis, Visual
Sub-Unit: Super Junior T
Status: Sementara tidak aktif
Keahlian / Hobi: Menulis puisi, cerita dongeng, main game komputer. Aneh ya, seperti tidak nyambung dengan keahlian seorang penyanyi.

biodata super junior
 4. Nama Asli: Kim Young-woon, 김영운 (Hangul),  金永雲 (Hanja), Jiang Ren (Mandarin)
Nama Panggilan: Beruang Kangin, Pria Paling Tampan No. 1 di Korea, Kang Kings, Ox
Tempat / Tanggal Lahir: Seol Seodaemoongoo / 17 Januari 1985
Tinggi Badan: 180 cm
Berat Badan: 70 Kg
Golongan Darah: O
Agama: Kristen
Posisi: Vokalis
Sub-Unit: Super Junior T, H
Status: Aktif 
Keahlian / Hobi: Nyanyi, Akting, Berenang

biodata super junior5.  Nama Asli: Park Jung-soo, 박정수 (Hangul),  朴正洙 (Hanja), Li Te (Mandarin)
Nama Panggilan: Malaikat Tanpa Sayap, Bebek, Peterpan, Pemimpin Spesial, Gaeteuk
Tempat / Tanggal Lahir: Seoul Yeonshinnae / 1 Juli 1983
Tinggi Badan: 178 cm, tapi sebenarnya sih 175 cm
Berat Badan: 59 Kg
Golongan Darah: A
Agama: Kristen
Posisi: Leader, Vokalis, Dancer
Sub-Unit: Super Junior T, H
Status: Aktif
Keahlian: Piano dan komposisi musik

biodata super junior
 6. Nama Asli: Lee Sung-min, 이성민 (Hangul),  李晟敏 (Hanja), Cheng Min (Mandarin)
Nama Panggilan: Sweet Pumpkin, Minimi
Tempat / Tanggal Lahir: Ilsan, Provinsi KtungGi / 1 Januari 1986
Tinggi Badan: 175 cm
Berat Badan: 57 Kg
Golongan Darah: A
Agama: Kristen
Posisi: Vokalis Utama, Dancer
Sub-Unit: Super Junior T, H, M
Status: Aktif
Keahlian / Hobi: Akting, Main Musik, Bela Diri China

biodata super junior
 7. Nama Asli: Kim Jong-woon, 김종운 (Hangul),  金鐘雲 (Hanja), Yi Xing (Mandarin)
Nama Panggilan: Anjing Rabies, Awan, Anjing (Shio)
Tempat / Tanggal Lahir: Chunahn, Provinsi Choongchung / 24 Agustus 1984
Tinggi Badan: 178 cm
Berat Badan: 64 Kg
Golongan Darah: AB
Agama: Katolik
Posisi: Vokalis Utama
Sub-Unit: Super Junior KRY, H
Status: Aktif
Keahlian/Hobi : Nyanyi,Komposisi Musik

biodata super junior
8. Nama Asli: Choi Si-won, 최시원 (Hangul),  崔始源 (Hanja), Shi Yuan (Mandarin)
Nama Panggilan: Kuda, Simba, Fans Tuhan No. 1
Tempat / Tanggal Lahir: Seoul Gangnam / 10 Februari 1987
Tinggi Badan: 183 cm
Berat Badan: 65 Kg
Golongan Darah: B
Agama: Kristen
Posisi: Vokalis, Visual
Sub-Unit: Super Junior M
Status: Aktif
Keahlian / Hobi: Akting, Olahraga, Tari, Nyanyi

biodata super junior
 9. Nama Asli: Lee Dong-hae, 이동해 (Hangul),  李東海 (Hanja), Dong Hai (Mandarin)
Nama Panggilan: Pinokio, Macan
Tempat / Tanggal Lahir: Mokpo, Provinsi Jeolla / 15 Oktober 1986
Tinggi Badan: 175 cm
Berat Badan: 60 Kg
Golongan Darah: A
Agama: Kristen
Posisi: Dancer Utama, Vokalis
Sub-Unit: Super Junior M
Status: Aktif
Keahlian / Hobi: Olahraga, Tari, Nyanyi, Nonton

biodata super junior
 10. Nama Asli: Kim Ki-bum, 김기범 (Hangul),  金起範 (Hanja), Ji Fan (Mandarin)
Nama Panggilan: Putri Salju, Yangban Kim
Tempat / Tanggal Lahir: Seoul / 21 Agustus 1987
Tinggi Badan: 179 cm
Berat Badan: 58 Kg
Golongan Darah: A
Agama: Kristen
Posisi: Rapper Utama, Vokalis
Sub-Unit: -
Status: Tidak Aktif (sejak 2009)
Keahlian / Hobi: Akting, Nyanyi

biodata super junior
 11.  Nama Asli: Kim Ryeo-wook, 김려욱 (Hangul),  金厲旭 (Hanja), Li Xu (Mandarin)
Nama Panggilan: Eternak Maknae
Tempat / Tanggal Lahir: Incheon Bupyung Sanggokdong / 21 Juni 1987
Tinggi Badan: 173 cm
Berat Badan: 58 Kg
Golongan Darah: O
Agama: Kristen
Posisi: Vokalis Utama
Sub-Unit: Super Junior KRY, M
Status: Aktif
Keahlian / Hobi: Nyanyi, Komposisi Musik

biodata super junior
 12. Nama Asli: Cho Kyu-hyun, 조규현 (Hangul),  曺圭賢 (Hanja), Gui Xian (Mandarin)
Nama Panggilan: Kim Hyu, Game Kyu, Jumong Kyu, dan masih banyak sebenarnya, hehehe
Tempat / Tanggal Lahir: Seoul Nohwon / 3 Februari 1988
Tinggi Badan: 180 cm
Berat Badan: 68 Kg
Golongan Darah: A
Agama: Kristen
Posisi: Vokalis Utama
Sub-Unit: Super Junior KRY, M
Status: Aktif
Keahlian / Hobi: Nonto, Main Game, Nyanyi

biodata super junior
 13.  Nama Asli: Shin Dong-hee, 신동희 (Hangul),  申東熙 (Hanja), Shen Dong (Mandarin)
Nama Panggilan: Dongri Dong Dong, Dolpan Ogyupsal
Tempat / Tanggal Lahir: Moonkyung, Provinsi KyungGi Utara / 28 September 1985
Tinggi Badan: 178 cm
Berat Badan: 90 Kg
Golongan Darah: O
Agama: Kristen
Posisi: Dancer, Vokalis, Rapper Utama
Sub-Unit: Super Junior T, H
Status: Aktif
Keahlian / Hobi: Menari, Bikin Lelucon, Membuat Macam-macam Ekpresi Wajah


Nah itu Tadi Biodata Para Personel Super Junior atau Suka dibilang SUJU.
Apakah kalian Puas dengan Biodatanya??

Kita berdoa saja yaa semoga personi Super Junir bisa bersatu kembali. amiin :)

Cara Menghilangkan Kejenuhan

Merasakan rasa jenuh atau bosan adalah sebuah hal yang wajar bagi kita. Sebagai manusia memang ada kalanya kita merasakan sebuah nuansa hati yang kurang menyenangkan, dan hal ini sangat lumrah. Ketika kita sedang dilanda kejenuhan, pastinya ia menjadi sebuah momentum yang cukup mendera dan kita ingin sesegera keluar dari kondisi tersebut.

Susana hati yang sedang dilanda kejenuhan sebenarnya dipicu oleh berbagai hal. Apa yang menjadi kecenderungan kita dalam kurun waktu tertentu juga menimbulkan sebuah kejenuhan yang cukup membuat kita merasa tidak nyaman menjalani hari-hari yang semestinya berjalan dengan riang, indah dan mengasyikkan.

Lalu apa yang harus dilakukan untuk mengusir kejenuhan? Berikut beberapa tips agar Anda bisa terhindar atau mengakhiri kejenuhan yang Anda rasakan.

Buat diri Anda merasa fresh
Biasanya rasa jenuh itu timbul lantaran kondisi fisik dan jiwa kita tidak dalam kondisi fresh atau sedang dalam keadaan tertekan. Istirahatkan raga dan pikiran Anda agar kejenuhan itu segera menghilang.

Jangan memaksakan diri untuk melakukan sesuatu yang menyita banyak waktu
Bekerja dengan keras disatu sisi memang baik untuk masa depan Anda, tapi Anda adalah seorang manusia yang ada kalanya pikiran dan kefokusan Anda membuat Anda merasakan kejenuhan. Beri diri Anda waktu untuk menenangkan diri, dan selesaikan pekerjaan Anda pada waktu berikutnya.

Kerjakan sesuatu yang paling Anda sukai
Pikiran yang sedang kosong atau tidak menentu juga bisa membuat Anda merasa jenuh dengan sendirinya. Agar Anda tidak terlarut dalam kejenuhan Anda bisa mengerjakan sesuatu yang paling Anda sukai, misalkan menulis, membaca, atau hal-hal lainnya yang paling Anda sukai.

Temui seseorang (teman Anda) yang paling enak diajak ngobrol
Jika Anda punya sosok teman yang enak untuk diajak bicara, temui dia ketika Anda sedang dilanda kejenuhan. Dengan sharing bersama dia Anda akan terbebas dari rasa jenuh dan bahkan bisa merasakan sebuah semangat baru.

Nonton acara televisi kegemaran Anda
Menonton acara televisi kesukaan Anda juga dapat menghalau kejenuhan Anda. Kejenuhan yang Anda rasakan akan hilang dengan sendirinya ketika Anda sedang antusias dan menikmati acara televisi yang sedang Anda tonton

Berita Teknologi Pengertian Teknologi

Berita Teknologi Pengertian TeknologiTeknologi adalah keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia.
Penggunaan teknologi oleh manusia diawali dengan pengubahan sumber daya alam menjadi alat-alat sederhana. Penemuan prasejarah tentang kemampuan mengendalikan api telah menaikkan ketersediaan sumber-sumber pangan, sedangkan penciptaan roda telah membantu manusia dalam beperjalanan dan mengendalikan lingkungan mereka. Perkembangan teknologi terbaru, termasuk di antaranya mesin cetak, telepon, dan Internet, telah memperkecil hambatan fisik terhadap komunikasi dan memungkinkan manusia untuk berinteraksi secara bebas dalam skala global. Tetapi, tidak semua teknologi digunakan untuk tujuan damai; pengembangan senjata penghancur yang semakin hebat telah berlangsung sepanjang sejarah, dari pentungan sampai senjata nuklir.

Berita Teknologi Pengertian Teknologi

Teknologi telah memengaruhi masyarakat dan sekelilingnya dalam banyak cara. Di banyak kelompok masyarakat, teknologi telah membantu memperbaiki ekonomi (termasuk ekonomi global masa kini) dan telah memungkinkan bertambahnya kaum senggang. Banyak proses teknologi menghasilkan produk sampingan yang tidak dikehendaki, yang disebut pencemar, dan menguras sumber daya alam, merugikan dan merusak Bumi dan lingkungannya. Berbagai macam penerapan teknologi telah memengaruhi nilai suatu masyarakat dan teknologi baru seringkali mencuatkan pertanyaan-pertanyaan etika baru. Sebagai contoh, meluasnya gagasan tentang efisiensi dalam konteks produktivitas manusia, suatu istilah yang pada awalnynya hanya menyangku permesinan, contoh lainnya adalah tantangan norma-norma tradisional.
Bahwa keadaan ini membahayakan lingkungan dan mengucilkan manusia; penyokong paham-paham seperti transhumanisme dan tekno-progresivisme memandang proses teknologi yang berkelanjutan sebagai hal yang menguntungkan bagi masyarakat dan kondisi manusia. Tentu saja, paling sedikit hingga saat ini, diyakini bahwa pengembangan teknologi hanya terbatas bagi umat manusia, tetapi kajian-kajian ilmiah terbaru mengisyaratkan bahwa primata lainnya dan komunitas lumba-lumba tertentu telah mengembangkan alat-alat sederhana dan belajar untuk mewariskan pengetahuan mereka kepada keturunan mereka.

Definisi dan Penggunaan Teknologi

Penggunaan istilah ‘teknologi’ (bahasa Inggris: technology) telah berubah secara signifikan lebih dari 200 tahun terakhir. Sebelum abad ke-20, istilah ini tidaklah lazim dalam bahasa Inggris, dan biasanya merujuk pada penggambaran atau pengkajian seni berguna. Istilah ini seringkali dihubungkan dengan pendidikan teknik, seperti di Institut Teknologi Massachusetts (didirikan pada tahun 1861). Istilah technology mulai menonjol pada abad ke-20 seiring dengan bergulirnya Revolusi Industri Kedua. Pengertian technology berubah pada permulaan abad ke-20 ketika para ilmuwan sosial Amerika, dimulai oleh Thorstein Veblen, menerjemahkan gagasan-gagasan dari konsep Jerman, Technik, menjadi technology. Dalam bahasa Jerman dan bahasa-bahasa Eropa lainnya, perbedaan hadir di antara Technik dan Technologie yang saat itu justru nihil dalam bahasa Inggris, karena kedua-dua istilah itu biasa diterjemahkan sebagai technology. Pada dasawarsa 1930-an, technology tidak hanya merujuk pada ‘pengkajian’ seni-seni industri, tetapi juga pada seni-seni industri itu sendiri. Pada tahun 1937, seorang sosiolog Amerika, Read Bain, menulis bahwa technology includes all tools, machines, utensils, weapons, instruments, housing, clothing, communicating and transporting devices and the skills by which we produce and use them (“teknologi meliputi semua alat, mesin, aparat, perkakas, senjata, perumahan, pakaian, peranti pengangkut/pemindah dan pengomunikasi, dan keterampilan yang memungkinkan kita menghasilkan semua itu”). Definisi yang diajukan Bain masih lazim dipakai oleh kaum terpelajar hingga saat ini, terkhusus ilmuwan sosial. Tetapi ada juga definisi yang sama menonjolnya, yakni definisi teknologi sebagai sains terapan, khususnya di kalangan para ilmuwan dan insinyur, meskipun sebagian besar ilmuwan sosial yang mempelajari teknologi menolak definisi ini. Yang lebih baru, para kaum terpelajar telah meminjam dari para filsuf Eropa, technique, untuk memperluas makna technology ke berbagai macam bentuk nalar instrumental, seperti dalam karya Foucault tentang techniques de soi, yang diterjemahkan sebagai technologies of the self atau teknologi diri.
Berita Teknologi Pengertian Teknologi
Kamus-kamus dan para sarjana telah memberikan berbagai macam definisi. Kamus Merriam-Webster memberikan definisi “technology” sebagai the practical application of knowledge especially in a particular area (terapan praktis pengetahuan, khususnya dalam ruang lingkup tertentu) dan a capability given by the practical application of knowledge (kemampuan yang diberikan oleh terapan praktis pengetahuan). Ursula Franklin, dalam karyanya dari tahun 1989, kuliah “Real World of Technology”, memberikan definisi lain konsep ini; yakni practice, the way we do things around here (praktis, cara kita memperbuat ini semua di sekitaran sini).Istilah ini seringkali digunakan untuk mengimplikasikan suatu lapangan teknologi tertentu, atau untuk merujuk teknologi tinggi atau sekadar elektronik konsumen, bukannya teknologi secara keseluruhan.[8] Bernard Stiegler, dalam Technics and Time, 1, mendefinisikan technology dalam dua cara: sebagai the pursuit of life by means other than life (pencarian kehidupan, dalam artian lebih dari sekadar hidup), dan sebagai organized inorganic matter (zat-zat anorganik yang tersusun rapi).
Secara umum, teknologi dapat didefinisikan sebagai entitas, benda maupun tak benda yang diciptakan secara terpadu melalui perbuatan dan pemikiran untuk mencapai suatu nilai. Dalam penggunaan ini, teknologi merujuk pada alat dan mesin yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah-masalah di dunia nyata. Ia adalah istilah yang mencakupi banyak hal, dapat juga meliputi alat-alat sederhana, seperti linggis atau sendok kayu, atau mesin-mesin yang rumit, seperti stasiun luar angkasa atau pemercepat partikel. Alat dan mesin tidak mesti berwujud benda; teknologi virtual, seperti perangkat lunak dan metode bisnis, juga termasuk ke dalam definisi teknologi ini.
Kata “teknologi” juga digunakan untuk merujuk sekumpulan teknik-teknik. Dalam konteks ini, ia adalah keadaan pengetahuan manusia saat ini tentang bagaimana cara untuk memadukan sumber-sumber, guna menghasilkan produk-produk yang dikehendaki, menyelesaikan masalah, memenuhi kebutuhan, atau memuaskan keinginan; ia meliputi metode teknis, keterampilan, proses, teknik, perangkat, dan bahan mentah. Ketika dipadukan dengan istilah lain, seperti “teknologi medis” atau “teknologi luar angkasa”, ia merujuk pada keadaan pengetahuan dan perangkat disiplin pengetahuan masing-masing. “Teknologi state-of-the-art” (teknologi termutakhir, sekaligus tercanggih) merujuk pada teknologi tinggi yang tersedia bagi kemanusiaan di ranah manapun.
Teknologi dapat dipandang sebagai kegiatan yang membentuk atau mengubah kebudayaan. Selain itu, teknologi adalah terapan matematika, sains, dan berbagai seni untuk faedah kehidupan seperti yang dikenal saat ini. Sebuah contoh modern adalah bangkitnya teknologi komunikasi, yang memperkecil hambatan bagi interaksi sesama manusia, dan sebagai hasilnya, telah membantu melahirkan sub-sub kebudayaan baru; bangkitnya budaya dunia maya yang berbasis pada perkembangan Internet dan komputer.[12] Tidak semua teknologi memperbaiki budaya dalam cara yang kreatif; teknologi dapat juga membantu mempermudah penindasan politik dan peperangan melalui alat seperti pistol atau bedil. Sebagai suatu kegiatan budaya, teknologi memangsa ilmu dan rekayasa, yang masing-masing memformalkan beberapa aspek kerja keras teknologis.

Ilmu, rekayasa, dan teknologi

Perbedaan antara ilmu, rekayasa, dan teknologi tidaklah selalu jelas. Ilmu adalah penyelidikan bernalar atau pengkajian fenomena, ditujukan untuk menemukan prinsip-prinsip yang melekat di antara unsur-unsur dunia fenomenal dengan membekerjakan teknik-teknik formal seperti metode ilmiah. Teknologi tidak mesti hasil ilmu semata-mata, oleh karena teknologi harus memenuhi persyaratan seperti utilitas, kebergunaan, dan keselamatan.
Rekayasa adalah proses berorientasi tujuan dari perancangan dan pembuatan peralatan dan sistem untuk mengeksploitasi fenomena alam dalam konteks praktis bagi manusia, seringkali (tetapi tidak selalu) menggunakan hasil-hasil dan teknik-teknik dari ilmu. Pengembangan teknologi dapat dilukiskan pada banyak ranah pengetahuan, termasuk pengetahuan ilmiah, rekayasa, matematika, linguistika, dan sejarah, guna mencapai suatu hasil yang praktis.
Teknologi seringkali merupakan konsekuensi dari ilmu dan rekayasa — meskipun teknologi sebagai kegiatan manusia seringkali justru mendahului kedua-dua ranah tersebut. Misalnya, ilmu dapat mengkaji aliran elektron di dalam penghantar listrik, dengan menggunakan peralatan dan pengetahuan yang telah ada sebelumnya. Pengetahuan yang baru ditemukan ini kemudian dapat digunakan oleh para insinyur dan teknisi untuk menciptakan peralatan dan mesin-mesin baru, seperti semikonduktor, komputer, dan bentuk-bentuk teknologi tingkat lanjut lainnya. Dalam cara pandang seperti ini, para ilmuwan dan rekayasawan kedua-duanya dapat dipandang sebagai “teknolog”; ketiga-tiga ranah ini seringkali dapat dipandang sebagai satu untuk tujuan penelitian dan referensi.
Hubungan pasti antara ilmu dan teknologi secara khusus telah diperdebatkan oleh para ilmuwan, sejarawan, dan pembuat kebijakan pada penghujung abad ke-20, sebagiannya karena debat dapat mengabarkan pembiayaan ilmu dasar dan ilmu terapan. Dalam kebangkitan setelah Perang Dunia II, misalnya, di Amerika Serikat terdapat anggapan yang meluas bahwa teknologi hanyalah “ilmu terapan” dan untuk mendanai ilmu dasar adalah dengan cara menuai hasil-hasil teknologi pada waktunya. Artikulasi filsafat ini dapat ditemukan secara eksplisit di dalam risalah yang ditulis Vannevar Bush mengenai kebijakan ilmu pascaperang, Science—The Endless Frontier: “Produk-baru, industri baru, dan lebih banyak lapangan kerja memerlukan tambahan pengetahuan sinambung akan hukum-hukum alam… Pengetahuan baru yang esensial ini dapat diperoleh hanya melalui penelitian ilmiah dasar.” Tetapi, pada akhir dasawarsa 1960-an, pandangan ini muncul dilatarbelakangi oleh serangan langsung, memimpin ke arah berbagai inisiatif untuk mendanai ilmu untuk tujuan tertentu (inisiatif-inisiatif ini ditolak oleh komunitas ilmiah). Isu tersebut masih diperdebatkan—meskipun sebagian besar analis menolak model bahwa teknologi hanyalah hasil dari penelitian ilmiah

Read more: http://www.artikelbagus.com/2013/09/berita-teknologi-pengertian-teknologi.html#ixzz2pyOqprXO

Sejarah Perkembangan Teknologi

Sejarah Perkembangan TeknologiSejarah Perkembangan Teknologi menarik untuk kita simak bersama mengingat perkembagan teknologi dari masa ke masa sangat penting bagi perkembangan peradaban manusia. Perkembangan peradaban manusia diiringi dengan perkembangan cara penyampaian informasi (yang selanjutnya dikenal dengan istilah teknologi informasi), mulai dari gambar-gambar yang tak bermakna di dinding-dinding gua, peletakan tonggak sejarah dalam bentuk prasasti, sampai diperkenalkannya dunia arus informasi yang dikenal dengan nama internet.

Sejarah Perkembangan Teknologi

1. Masa Prasejarah

Pada zaman ini, teknologi informasi dan komunikasi yang dilakukan oleh manusia berfungsi sebagai sistem untuk pengenalan bentuk-bentuk yang manusia kenal. Untuk menggambarkan informasi yang diperoleh, mereka menggambarkannya pada dinding-dinding gua tentang berburu dan binatang buruannya. Pada masa ini, manusia mulai mengidentifikasi benda-benda yang ada di sekitar lingkungan tempat tinggal mereka, kemudian melukiskannya pada dinding gua tempat tinggalnya. Awal komunikasi mereka pada zaman ini hanya berkisar pada bentuk suara dengusan dan menggunakan isyarat tangan.
Pada zaman prasejarah mulai diciptakan dan digunakan alat-alat yang menghasilkan bunyi dan isyarat, seperti gendang, terompet yang terbuat dari tanduk binatang, dan isyarat asap sebagai alat pemberi peringatan terhadap bahaya.
a. 3000 SM
Untuk yang pertama kali, tulisan digunakan oleh bangsa Sumeria dengan menggunakan simbol-simbol yang dibentuk dari piktografi sebagai huruf. Simbol atau huruf-huruf ini juga mempunyai bentuk bunyi (penyebutan) yang berbeda sehingga mampu menjadi kata, kalimat, dan bahasa.
b. 2900 SM
Pada 2900 SM, bangsa Mesir Kuno menggunakan huruf hieroglif. Hieroglif merupakan bahasa simbol, dimana setiap ungkapan diwakili oleh simbol yang berbeda. Jika simbol-simbol tersebut digabungkan menjadi satu rangkaian, maka akan menghasilkan sebuah arti yang berbeda. Bentuk tulisan dan bahasa hieroglif ini lebih maju dibandingkan dengan tulisan bangsa Sumeria.
Sejarah Perkembangan Teknologi
c. 500 SM
Pada 500 SM, manusia sudah mengenal cara membuat serat dari pohon papyrus yang tumbuh di sekitar sungai Nil. Serat papyrus dapat digunakan sebagai kertas. Kertas yang terbuat dari serat pohon papyrus menjadi media untuk menulis atau media untuk menyampaikan informasi yang lebih kuat dan fleksibel dibandingkan dengan lempengan tanah liat yang sebelumnya juga digunakan sebagai media informasi.
d. 105 M
Pada masa ini, bangsa Cina berhasil menemukan kertas. Kertas yang ditemukan oleh bangsa Cina pada masa ini adalah kertas yang kita kenal sekarang. Kertas ini dibuat dari serat bambu yang dihaluskan, disaring, dicuci, kemudian diratakan dan dikeringkan. Penemuan ini juga memungkinkan sistem pencetakan yang dilakukan dengan menggunakan blok kayu yang ditoreh dan dilumuri oleh tinta atau yang kita kenal sekarang dengan sistem cap.

2. Masa Modern (1400 M s.d. Sekarang)

a. Tahun 1455
Pada 1455, untuk pertama kalinya Johann Gutenberg mengembangkan mesin cetak dengan menggunakan plat huruf yang terbuat dari besi dan dapat diganti-ganti dalam bingkai yang terbuat dari kayu.
b. Tahun 1830
Augusta Lady Byron menulis program komputer yang pertama di dunia. Ia bekerja sama dengan Charles Babbage menggunakan mesin analytical yang didesain sehingga mampu memasukkan data, mengolah data, dan menghasilkan bentuk keluaran dalam sebuah kartu. Mesin ini dikenal sebagai bentuk komputer digital yang pertama, walaupun cara kerjanya lebih bersifat mekanis daripada bersifat digital.
c. Tahun 1837
Samuel Morse mengembangkan telegraf dan bahasa kode morse bersama Sir William Cook dan Sir Charles Wheatstone. Morse menggunakan kode-kode sederhana untuk mewakili pesan-pesan yang ingin dikirimkan dengan menggunakan pulsa listrik melalui kabel tunggal. Namun sinyal-sinyal yang dapat dikirim dengan baik hanya berada dalam jarak 32 km. Untuk jarak yang lebih jauh, sinyal-sinyal yang diterima menjadi terlalu lemah untuk direkam. Kemudian, Morse membangun peralatan relai yang ditempatkan di setiap 32 km dari stasiun sinyal. Relai tersebut berfungsi untuk mengulangi sinyal yang diterima dan mengirimnya kembali ke 32 km berikutnya. Relai terdiri dari sakelar yang dioperasikan secara elektromagnetik. Sistem telegraf kemudian segera digunakan untuk bisnis yang membutuhkan pengiriman pesan secara cepat untuk jarak yang jauh, seperti surat kabar dan pesan untuk perjalanan kereta api.
d. Tahun 1877
Pada 1877, Alexander Graham Bell menciptakan dan mengembangkan telepon yang dipergunakan pertama kali secara umum. Pada 1879, sistem pemanggilan telepon mulai menggunakan nomor yang menggantikan sistem pemanggilan nama. Hal ini untuk mencegah operator yang tidak mengenal semua pelanggan. Sistem penomoran telepon menggunakan huruf dan angka, dimana nomor telepon menggunakan sistem dua huruf dan lima digit angka.
e. Tahun 1889
Pada 1889, Herman Hollerith menerapkan prinsip kartu perforasi untuk melakukan penghitungan. Tugas pertamanya adalah menemukan cara yang lebih cepat untuk melakukan perhitungan bagi Biro Sensus Amerika Serikat. Sensus yang dilakukan pada 1880 membutuhkan waktu tujuh tahun untuk menyelesaikan perhitungan. Dengan berkembangnya populasi, Biro Sensus tersebut memperkirakan bahwa dibutuhkan waktu sepuluh tahun untuk menyelesaikan perhitungan sensus.
Hollerith menggunakan kartu perforasi untuk memasukkan data sensus yang kemudian diolah oleh alat tersebut secara mekanik. Sebuah kartu dapat menyimpan hingga 80 variabel. Dengan menggunakan alat tersebut, hasil sensus dapat diselesaikan dalam waktu enam minggu. Selain memiliki keuntungan dalam bidang kecepatan, kartu tersebut berfungsi sebagai media penyimpan data. Tingkat kesalahan perhitungan juga dapat ditekan secara drastis.
f. Tahun 1931
Pada 1931, Vannevar Bush membuat sebuah kalkulator untuk menyelesaikan persamaan differensial. Mesin tersebut dapat menyelesaikan persamaan differensial kompleks yang selama ini dianggap rumit oleh kalangan pelajar dan mahasiswa. Mesin tersebut sangat besar dan berat karena ratusan gerigi dan poros yang dibutuhkan untuk melakukan perhitungan.
g. Tahun 1939
Pada 1939, Dr. John V. Atanasoff dan dibantu oleh Clifford Berry berhasil menciptakan komputer elektronik digital pertama. Sejak saat ini, komputer terus mengalami perkembangan sehingga menjadi semakin canggih. Mengenai sejarah perkembangan komputer ini akan dijelaskan pada bagian berikutnya.
h. Tahun 1973 – 1990
Pada masa ini, istilah internet diperkenalkan dalam sebuah paper tentang TCP/IP. Secara harfiah, internet (interconnected networking) diartikan sebagai rangkaian komputer yang terhubung di dalam beberapa rangkaian. Rangkaian pusat yang membentuk internet diawali pada 1969 sebagai ARPANET yang dibangun oleh ARPA (United States Department of Defense Advanced Research Projects Agency). Beberapa penyelidikan awal yang disumbang oleh ARPANET di antaranya adalah kaedah rangkaian tanpa pusat (decentralised network), teori queueing, dan kaedah pertukaran paket (packet switching).
Pada 1981, National Science Foundation mengembangkan backbone yang disebut CSNET dengan kapasitas 56 Kbps untuk setiap institusi dalam pemerintahan.
Pada 1 Januari 1983, ARPANET menukar protokol rangkaian pusatnya, dari NCP ke TCP/IP. Ini merupakan awal dari Internet yang kita kenal sekarang. Kemudian pada 1986, IETF mengembangkan sebuah server yang berfungsi sebagai alat koordinasi di antara DARPA, ARPANET, DDN, dan Internet Gateway. Pada 1990-an, internet telah berkembang dan menyambungkan banyak pengguna jaringan-jaringan komputer yang ada.
i. Tahun 1991 – Sekarang
Sistem bisnis dalam bidang IT pertama kali terjadi ketika CERN memungut bayaran dari para anggotanya untuk menanggulangi biaya operasionalnya. Pada 1992, mulai terbentuk komunitas internet dan diperkenalkannya istilah World Wide Web (www) oleh CERN. Pada 1993, NSF membentuk InterNIC untuk menyediakan jasa pelayanan internet menyangkut direktori dan penyimpanan data serta database (oleh AT&T), jasa registrasi (oleh Network Solution Inc), dan jasa informasi (oleh General Atomics/CERFnet). Pada 1994, pertumbuhan internet melaju dengan sangat cepat dan mulai merambah ke dalam berbagai segi kehidupan manusia dan menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari manusia. Pada 1995, perusahaan umum mulai diperkenankan menjadi provider dengan membeli jaringan di backbone. Langkah ini memulai pengembangan teknologi informasi, khususnya internet dan penelitian-penelitian untuk mengembangkan sistem dan alat yang lebih canggih.

Read more: http://www.artikelbagus.com/2013/10/sejarah-perkembangan-teknologi.html#ixzz2pyHYGvW2

Praktikum Kimia Dasar I



ACARA I
PENGENALAN ALAT-ALAT DAN BAHAN PRAKTIKUM
A.   PELAKSANAAN PRAKTIKUM
Tujuan                           : Memperkenalkan beberapa macam alat-alat yang sederhana 
                                   dan bahan yang  sering dipergunakan di Laboratorium Kimia
          Hari/tanggal                  :  Selasa/11 Desember 2012
          Waktu/Tempat               : 14.00-16.00 WITA/Laboratorium Kimia Fakultas  MIPA  
                                                  Universitas Mataram
B.   LANDASAN TEORI
          Alat dan bahan kimia merupakan komponen yang terpenting didalam laboratorum kimia. Alat kimia merupakan suatu komponen yang digunakan untuk membantu pengerjaan percobaan kimia. Alat ini berfungsi daam berbagai hal seperti, pengisian larutan, wadah, dan lain sebagainya. Alat-alat tersebut disesuaikan berdasarkan bentuk dan fungsinya. Misalnya, alat pengukut volume cairan yaitu gelas kimia, labu ukur ,slinder ukur, pipet atau buret yang disesuaikan pada volume dan jenis benda yang ingin di ukur, massa dapat diukur dengan neraca,alat pembakaran yang terdiri dari pembakar spiritus,dan pengukur suhu yaitu termometer (Purba. 2006 ).
           Laboratorium adalah suatu tempat dimana mahasiswa atau Praktikan, dosen, dan peneliti melakukan percobaan. Dalam kegiatan praktikum, hal mendasar yang harus dilakukan pertama kali adalah mengenal berbagai  alat dan bahan yang  biasa digunakan. Ada beberapa faktor yang sangat penting dalam mengetahui alat-alat yang ada dilaboratorium, yaitu masalah alat-alat yang digunakan dan adanya ketelitian praktikan dalam melakukan pengukuran dan perhitungan (Ibnu, 1976).
           Begitupun dengan Penanganan bahan sebelum melakukan praktikum sangat mempengaruhi hasil praktikum. Bahan yang mudah menguap diletakkan didalam wadah, bahan kimia yang dapat menimbulkan bahaya sebaiknya disimpan dalam sebuah lemari asam, sehingga sangat dipelukan adanya pengenalan alat-alat dan bahan sebelum praktikum dilaksanakan, demi kelancaran pelaksanaan praktikum (Neilands, 1990).     
          
C.   ALAT DAN BAHAN
Alat:
Ø  Labu takar
Ø  Gelas kimia/gelas beker
Ø  Spatula
Ø  Erlenmeyer
Ø  Corong
Ø  Pipet tetes
Ø  Pipet volume
Ø  Pipet gondok
Ø  Rubbel Bub
Ø  Gelas ukur
Ø  Cawan
       Bahan:
Ø  Potassium Iodine (KI)
Ø  Potassium Permanganate (KMnO4)
Ø  Besi (III) Cloride
Ø  Natrium Hidroksida (NaOH)
Ø  Larutan Benedict (CuSO4, Na2CO3, (Na3C6O7) 3H2O)
Ø  Asam Asetat (CH3COOH)
Ø  Asam Sulfat (H2SO4)
Ø  Etanol ( C2H5OH)
Ø  Asam Klorida (HCl)
Ø  Chloroform (CHCl2)

D.   SKEMA KERJA
  Alat-Alat dan Bahan Praktikum
                                                  - Diamati alat- dan bahan
                                                  - Dicatat hasil pengamatan        
                                            Hasil

E.    HASIL PENGAMATAN
1.      Pengenalan Alat
No
Nama Alat
Gambar Alat
Kegunaan

1

Labu Takar
Mengencerkan larutan


2


Gelas Kimia
Menampung larutan

3

Spatula
Mengaduk larutan

4

Erlernmeyer
Menampung larutan (biasanya digunakan untuk titrasi)


5


Corong
Menyaring larutan


6


Pipet Tetes
Mengambil larutan dalam jumlah kecil

7

Pipet Volume
Mengukur volume larutan


8


Pipet Gondok
Mengambil larutan
9
Rubbel Bub
Menghisap larutan yang akan digunakan dari botol larutan

10

Gelas Ukur
Mengukur larutan
11
Cawan
Menguapkan larutan yang bersifat volatile

2.      Pengenalan Bahan
No.
Nama Bahan
Rumus Molekul
Bentuk/Warna
Sifat-Sifat
1
Potassium Iodine
KI
Padat/Putih
Toksik, tidak stabil bila terkena cahaya
2
Potassium Permanganat
KMnO4
Padat/Hitam
Toksik, oksidator kuat
3
Besia (III) Clorida
FeCl3
Padat/Cokelat Kekuningan
Toksik, mudah teroksidasi oleh udara
4
Natrium Hidroksida
NaOH
Padat/Putih
Toksik, basa kuat, korosif
5
Benedict
CuSO4, Na2CO3, (Na3C6H8O7)3H2O
Cair/Biru
Toksik, penguji reduksi gula
6
Asam Asetat
CH3COOH
Cair/Bening
Toksik, asam lemah
7
Asam Sulfat
H2SO4
Cair/Bening
Toksik, asam kuat, korosif
8
Etanol
C2H5O
Cair/Bening
Flammable, volatile
9
Asam Klorida
HCl
Cair/Bening
Toksik, korosif, asam kuat
10
Chloroform
CHCl3
Cair/Bening
Toksik, non polar

F.      PEMBAHASAN
Dalam praktikum pertama yaitu “Pengenalan Alat-Alat dan Bahan Praktikum” akan dibahas tentang alat-alat dan bahan yang ada dilaboratorium. Beberapa alat diantaranya adalah labu takar, gelas kimia, spatula, erlenmeyer, corong, pipet tetes, pipet volume, pipet gondok, rubble bub, gelas ukur, dan cawan. Sedangkan bahan-bahannya antara lain Potassium Iodine, Potassium Permanganate, Besi (III) Cloride, Natrium Hidroksida, Larutan Bennedict, Asam Asetat, Asam Sulfat, Etanol, Asam Klorida, dan Chloroform. Labu takar digunakan untuk menakar volume zat kimia dalam bentuk cair pada proses preparasi larutan. Alat ini tersedia dalam berbagai macam ukuran, yaitu 5 ml sampai 5L. Gelas kimia adalah sebagai tempat untuk melarutkan zat yang tidak membutuhkan ketelitian tinggi, misalnya pereaksi reagen untuk analisis kimia kualitatif atau untuk pembuatan larutan standar sekunder pada analisis titrimetri/volumetrik. Terdapat berbagai ukuran mulai dari 25 ml sampai 5 Liter. jadi tidak cocok untuk pembuatan larutan yang perlu ketelitian tinggi (secara kuantitatif). Spatula adalah alat untuk mengambil obyek. Spatula yang sering digunakan di laboratorium biologi atau kimia berbentuk sendok kecil, pipih dan bertangkai. Ada tiga jenis spatula untuk keperluan laboratorium,yaitu spatula yang terbuat dari logam (stainlessteel) Erlenmeyer berbentuk seperti kendi, yaitu memiliki bagian bawah yang lebar tetapi sempit di bagian kepalanya dan digunakan untuk tempat zat yang akan dititrasi larutan.  Corong biasanya terbuat dari gelas tahan panas namun ada juga yang terbuat dari plastik dan memiliki bentuk seperti gelas bertangkai, terdiri dari corong dengan tangkai panjang dan pendek. Digunakan untuk membantu memasukkan cairan ke dalam suatu wadah dengan mulut sempit, seperti botol, labu ukur, buret dan sebagainya. Pipet tetes adalah alat berbentuk tabung dengan diameter yang sangat kecil memiliki ujung yang agak runcing, sedangkan pada ujung lainnya terdapat sejenis alat penghisap yang terbuat dari karet. Digunakan untuk memindahkan atau menghisap larutan atau sampel dari beaker glass atau botol sampe kedalam gelas ukur. Pipet volume, berupa pipa kurus dengan skala di sepanjang dindingnya, berbentuk silinder pendek yang pada kedua ujungya disambung denpa pipa panjang yang lebih kecil diametemya, berfungsi untuk memindahkan cairan dari tempat satu ke tempat lainnya dengan ketelitian yang tinggi, dengan tingkat ketelitian hingga 0,01 mm. Pipet gondok terbuat dari gelas dengan bagian tengahnya membesar dan ujungnya meruncing. Dipakai untuk mengambil larutan dengan volume tertentu dengan tepat. Gelas ukur adalah alat yang terbuat dari bahan gelas dan memiliki berbagai ukuran, mulai dari 10 ml sampai 2 L. Berbentuk tabung, hampir sama seperti tabung reaksi, tapi memiliki alas yang luas sehingga dapat ditegakkan. Kegunaannya untuk mengukur volume suatu larutan dengan ketelitian yang tinggi yaitu hingga 1 ml. Alat ini tidak boleh digunakan untuk mengukur larutan atau sampel yang panas. Rubbel bub adalah alat berbentuk bulat seperti bola dan terbuat dari karet, pada bagian bawahnya terdapat lubang untuk memasukkan pipet yang akan digunakan, dan pada bagian samping terdapat sejenis keran yang diberi tanda berupa (↑) dan (↓). Pada tanda (↑) berfungsi untuk menghisap larutan, sedangkan tanda(↓) berfungsi untuk mengeluarkan larutan. Cawan adalah sebuah wadah yang bentuknya bundar dan terbuat dari plastik atau kaca yang digunakan untuk wadah menguapakan cairan pada suhu yang tidak terlalu tinggi, misalnya didalam oven, diatas tangs air, uap, pasir dan sebagainya. Cawan mempunyai kapasitas 4 hingga 2900 ml. Sebagian dari cawan tidak tahan pada pemanasan suhu diatas 300 0C.
Beberapa bahan diantaranya: Potassium iodine atau disebut juga kalium iodine memiliki rumus molekul KI. Potassium iodine berbentuk kristal padat berwarna putih. Potassium iodine bersifat racun (toksik) dan tidak stabil jika terkena cahaya. Potassium permanganat atau disebut juga kalium permanganat memiliki rumus molekul KMnO4. Potassium permanganat berbentuk kristal padat berwarna hitam. Potassium permanganat bersifat racun dan merupakan oksidator kuat. Besi (III) klorida memiliki rumus molekul FeCl­3, berbentuk padat dan berwarna cokelat kekuningan. Bersifat racun dan mudah teroksidasi oleh udara. Natrium hidroksida memiliki rumus molekul NaOH, berbentuk kristal padat dan berwarna putih. Natrium hidroksida merupakan basa kuat, bersifat racun (toksik) dan korosif. Larutan benedict merupakan larutan untuk penguji reduksi gula dan protein. Larutan Benedict terdiri dari CuSO4, Na2CO3, (Na3C6O7 )3H2O. Larutan ini berwarna biru gelap dan bersifat racun (toksik). Asam asetat memiliki rumus molekul CH3COOH, berupa cairan dan berwarna bening. Asam asetat merupakan asam lemah dan bersifat racun (toksik). Asam sulfat memiliki rumus molekul H2­SO4, berupa cairan dan berwarna bening. Asam sulfat merupakan asam kuat, bersifat racun (toksik) dan korosif. Etanol memiliki rumus molekul C2H5O, berupa cairan dab berwarna bening. Etanol bersifat flammable (mudah terbakar) dan volatile (mudah menguap). Asam klorida memiliki rumus molekul HCl, berupa cairan dan berwarna bening. Asam klorida merupakan asam kuat, bersifat racun (toksik) dan korosif. Chloroform memiliki rumus molekul CHCl3, berupa cairan dan berwarna bening. Chloroform bersifat racun (toksik) dan non polar.
G.    KESIMPULAN DAN SARAN
1.      Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan, dapat disimpulkan bahwa terdapat bermacam-macam alat dan bahan dalam praktikum kimia, yang harus dikethui sebelum melakukan paraktikum, demi kelancaran praktikum. Pada umumnya, alat-alat terbuat dari gelas dengan berbagai bentuk sesuai fungsinya masing-masing. Berdasarkan hasil pengamatan, alat-alat yang diamati adalah alat-alat yang berperan dalam pembuatan larutan. Bahan-bahan kimia pada umumnya bersifat toksik, berbentuk padat atau cair dan berwarna bening.
2.      Saran
Berhati-hatilah ketika praktikum sedang berjalan. Kenalilah cara panggunaan alat terlebih dahulu, mengingat alat-alat yang ada didalam laboratorium sebagian besar terbuat dari gelas sehingga sangat mudah pecah maupun rusak, serta kenali pula bahan-bahan yang akan digunakan mengingat banyak bahan yang berbahaya dan beracun, untuk menjaga dari hal–hal yang tidak diinginkan pada saat praktikum belangsung, demi kelancaran pelaksanaan praktikum.

  
DAFTAR ISI
Ibnu. 1976.  Analisa Kimia Kuantitatif. Jakarta : Erlangga
Neilands. 1990. Analisa Kimia. Jakarta : Erlangga.
Purba, Michael. 2007. KIMIA (1A) untuk kelas X. Jakarta: Erlangga




ACARA II
PEMBUATAN LARUTAN DENGAN BERBAGAI KONSENTRASI
A.   PELAKSANAAN PRAKTIKUM
Tujuan                                  : -  Untuk mempraktikkan dan mempelajari cara  pembuatan  larutan dengan konsentrasi  tertentu dari    bahan padat seperti NaOH pelet.
-Untuk membuat berbagai konsentrasi larutan dari larutan induk yang telah diketahui konsentrasinya.     
Hari / Tanggal                      :   Selasa/ 11 Desember 2012
Waktu /Tempat                    :   14.00 – 16.00 WITA / Laboratorium Kimia Fakultas   
                                                             MIPA Universitas Mataram
B.   LANDASAN TEORI

Setiap zat padat, cair ataupun gas memiliki kemampuan melarut berbeda di dalam suatu pelarut. Perbedaan wujud ini memberi indikasi bahwa pelarutan harus menggunakan cara-cara tertentu. Rencana dan prosedurnya pun berkembang sesuai dengan sifat melarut dan sifat percobaan/analisis yang diterapkan dan sifat zat yang terlibat (Darmadi, dkk. 1994).
Sifat analisis atau eksperimen yang diterapkan menuntut kesediaan pereaksi tertentu agar analisis tersebut memberikan hasil yang tepat dan teliti. Berarti jenis peralatan dan spesifikasi zat yang dipilih pun harus memenuhi persyaratan agar diperoleh hasil sediaan yang mendukung tujuan analisis. Dengan demikian, pembuatan sediaan pereaksi berupa larutan akan menuntut cara atau teknik  pembuatan dengan prosedur tersendiri bergantung pada sifat pembentukan larutan itu (Dahar, R.W.2002)
Konsentrasi Larutan Dapat Dinyatakan dalam Berbagai Satuan. Konsentrasi (kepekatan) suatu larutan dapat dinyatakan dalam berbagai satuan. Konsentrasi larutan menyatakan banyaknya zat terlarut dalam suatu larutan. Jika zat yang terlarut sedikit sedangkan pelarutnya sangat banyak, maka larutan itu mempunyai konsentrasi rendah. Jika zat terlarut banyak, pelarutnya sedikit, maka larutan itu mempunyai konsentrasi tinggi  (Tim Kimia SMA.1993).
Beberapa konsentrasi larutan :
Kemolaran menyatakan banyaknya mol zat terlarut dalam satu liter larutan :
Molaritas (M) menyatakan jumlah mol zat terlarut dalam tiap liter larutan atau jumlah milimol terlarut dalam tiap militer larutan.

Dirumuskan                             :
Rumus pengenceran larutan    : V1.M1=V2.M2

V1 = Volume larutan mula-mula
M1= Konsentrasi mula-mula
V2 = Volume setelah diencerkan
M2= Konsentrasi setelah diencerkan

Kemolaran (M) menyatakan banyaknya mol zat dalam 1 kg zat pelarut
Molalitas menyatakan jumlah mol zat terlarut dalam 1000 gram pelarut.
Dirumuskan                             :
m      = molalitas
gram = Berat zat terlarut
Mr     = Massa rumus zat terlarut
p        = berat pelarut     (Tim Kimia SMA. 1993)

C.   ALAT DAN BAHAN
ALAT:
Ø  Timbangan analitik
Ø  Sendok
Ø  Gelas arloji
Ø  Labu takar 50 ml
Ø  Pipet tetes
Ø  Gelas kimia 50 dan 150 ml
Ø  Pipet ukur/pipet volume
Ø  Pipet gondok
Ø  Botol semprot
BAHAN:
Ø  NaOH Pelet
Ø  Aquades
Ø  Kertas saring
Ø  Larutan HCL 1 M   




D.   CARA KERJA
1.      SKEMA KERJA PEMBUATAN LARUTAN DENGAN KONSENTRASI TERTENTU DARI BAHAN PADAT

             Tabung reaksi I                           Tabung reaksi II                   Tabung reaksi III
           50 ml NaOH 1 M                      50 ml NaOH 0,75 M              50 ml NaOH 0,5 M
-    Dihitung gr NaOH yg dibutuhkan                     
-    Ditimbang gr NaoH

 





                                                                           Hasil
                                                                             + Ditambahkan aquades
- Dimasukkan larutan ke dalam labu   takar dengan tetap menambah aquades hingga tanda batas

Hasil

2.      SKEMA KERJA PEMBUATAN LARUTAN DENGAN BERBAGAI KONSENTRASI YANG BERBEDA-BEDA DARI LARUTAN INDUK (HCL)
                 Tabung reaksi I                       Tabung reaksi II                     Tabung reaksi III
                 25 ml HCL 0,5M                    20 ml HCL 0,4M                   10 ml HCL 0,2M


                        

                                                                                - Dihitung ml HCl (larutan induk)

                                                                         Hasil
         - Diambil ml HCl sesuai hasil  
          perhitungan
                                                                                 - Dimasukkan ke dalam labu ukur
                                                                                 - Diencerkan dengan air
Hasil



E.    HASIL PENGAMATAN
a.       Pembuatan larutan dengan konsentrasi tertentu dari bahan padat
ml Larutan
Molaritas NaOH
Gram NaOH
50 ml
50 ml
50 ml
1 M
0,75 M
0,5 M
2 gr
1,5 gr
1 gr

b.      Pembuatan larutan dengan berbagai konsentrasi yang berbeda-beda dari larutan induk
Larutan yang akan dibuat
ml HCL yang dibutuhkan
25 ml HCL 0,5M
20 ml HCL 0,4M
10 ml HCL 0,2M
12,5 ml
8 ml
2        ml

F.    ANALISIS DATA
 (Menghitung gram masing-masing larutan NaOH)

·         Larutan 50 ml NaOH  1M (Mr = 40)

M =
 n = M x V                                           n  =
    =1 x 0,05 (L)                                    gr = n x Mr
                                        = 0,05 x 40 = 2 gr

·         Larutan 50 ml NaOH  0,75M (Mr = 40)

M =
    n = M x V                                                 n  =
                                  = 0,75 x 0,05 (L)                                   gr = n x Mr
                                  = 0,0375                                                    = 0,375 x 40 = 1,5 gr

·         Larutan 50 ml NaOH  0,5M (Mr = 40)
M =
                            n = M x V                                                   n  =
       = 0,5 x 0,05 (L)                                        gr = n x Mr
       = 0,025                                                         = 0,025 x 40 = 1 gr







(Menghitung ml HCL 1M dengan rumus pengeceran)

·         25 ml HCL 0,5 M
V1.M1 = V2.M2
V1. M1= 25 ml x 0,5 ml
V1   = 12,5 ml

·         20 ml HCL 0,4 M
V1.M1 = V2.M2
V1. M1= 20 ml x 14 ml
V1   = 8 ml

·         10 ml HCL 0,2 M
V1.M1 = V2.M2
V1. M1= 10 ml x 0,2 ml
V1   = 2 ml

G.   PEMBAHASAN
Pembuatan larutan dengan konsentrasi tertentu dari bahan  padat dalam hal ini adalah NaOH pellet, memerlukan  perhitungan yang tepat. Diantaranya adalah perhitungan mengenai berapa banyak (gr) padatan  NaOH pellet yang dibutuhkan untuk dapat membuat larutan dengan konsentrasi tertentu. Untuk mengetahui berapa gr yang dibutuhkan, maka harus diaplikasikan penerapan rumus molaritas. Dari  perkalian Volume (V) dan Molaritas (M) yang diketahui dapat di temukan berapa nilai mol (n) NaOH. Kemudian dari nilai mol (n) yang didapatkan, dapat dicari berapa gr NaOH yang dibutuhkan yaitu dengan perkalian mol (n) dan masa atom relative (Mr).
                                                                       
                                                                       
Dalam pembuatan larutan dengan konsentrasi tertentu dari bahan padat kita harus mengetahui berapa Mr dari padatan tersebut (Mr NaOH).  Dalam percobaan ini dibuat tiga larutan dengan konsentrasi berbeda, yaitu:  50 ml1M, 50 ml 0,75M, dan 50 ml 0,5M. Setelah melakukan perhitungan, ternyata gr NaOH yang diperlukan untuk membuat larutan dengan konsentrasi tersebut adalah 2 gr, 1,5 gr, 1 gr. Setelah mendapatkan nilai gr, kemudian ditimbang dengan gelas arloji padatan NaOH pellet yang dibutuhkan sesuai gr larutan. Agar terbentuk larutan, NaOH yang telah ditimbang, dilarutkan dengan aquades lalu dimasukkan ke dalam labu takar dengan tetap menambah aquades hingga tanda batas pada labu takar menunjukkan tanda cekung. Terakhir, labu takar dikocok agar NaOH larut sempurna. Maka terbentuklah larutan NaOH dengan berbagai konsentrasi tertentu dari bahan padat (NaOH Pellet).   
Tidak sama seperti percobaan pembuatan larutan dengan berbagai konsentrasi tertentu dari bahan padat, yang terlebih dahulu menghitung nilai gr, pada percobaan membuat berbagai larutan dengan konsentrasi yang berbeda dari larutan induk, yang harus dicari terlebih dahulu adalah berapa ml (volume) larutan induk yang diperlukan untuk dapat membuat larutan dengan berbagai konsentrasi tertentu. Pada percobaan ini  diterapkan rumus pengenceran yaitu:
                                                            V1 M1= V2 M2
dimana angka 1 menunjukkan Volume (V) dan Molaritas (M) larutan induk, sedangkan angka 2 menunjukkan Volume (V) dan Molaritas (M) larutan yang akan dibuat. Pada percobaan ini akan dibuat larutan dengan konsentrasi 25 ml HCL 0,5 M, 20 ml HCL 0,4  M, dan 10 ml HCL 0,2 M. Setelah dilakukan perhitungan, didapatkan masing-masing 12,5 ml, 8 ml, dan 2 ml  HCL 1 M yang diperlukan untuk membuat larutan tersebut. Setelah didapatkan nilai ml HCL 1 M,  maka diambil ml HCL 1 m sesuai yang  dibutuhkan untuk kemudian di masukkan ke dalam labu ukur lalu diencerkan dengan air sampai tanda batas.  Maka terbentuklah larutan dengan berbagai konsentrasi yang berbeda dari larutan induk.
H.   KESIMPULAN & SARAN
1.      KESIMPULAN:
Berdasarkan hasil percobaan, dapat diketahui bahwa untuk membuat larutan dari padatan (NaOH pelet), harus dihitung terlebih dahulu nilai gram dari konsentrasi yang akan dibuat dengan rumus molaritas. Kemudian untuk menghitung ml (volume) dari larutan induk, maka harus digunakan rumus pengenceran (V1.M1= V2.M2) dan untuk mengencerkan larutan digunakan aquades.
2.      SARAN:
Pada percobaan pembuatan larutan dengan berbagai konsentrasi dari bahan padatan, diperlukan kehati-hatian dalam menimbang berapa gr padatan NaOH pellet yang dibutuhkan untuk membuat larutan. Karena jika hasil penimbangan dan perhitungan (rumus molaritas) tidak  sama maka tidak akan sesuai dengan konsentrasi larutan tertentu yang  akan dibuat. Selain itu, pada saat menuangkan aquades ke dalam labu takar, harus diperhatikan tanda batasnya. Jika telah terbentuk tanda cekung pada tanda batas maka tidak perlu menuang aquades lagi.



DAFTAR PUSTAKA

Dahar, R.W.2002. Kimia Inti. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat  Jenderal Pendidikan Tinggi, Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kerja.
Darmadi, dkk. 1994. Ilmu kimia. Edisi 2;. Jakarta: Erlangga.
Tim Penyusun.1993. Kimia SMA Untuk Kelas 2 Semester 4. Kandang Sari.




 
 
ACARA III
STOIKIOMETRI REAKSI PENGENDAPAN
A.   PELAKSANAAN PRAKTIKUM

Tujuan                         :  Untuk mempraktikkan bagaimana cara memisah suatu endapan hasil suatu reaksi dengan teknik penyaringan dan menghitung persentase endapan yang dihasilkan berdasarkan reaksi stoikiometrinya.
Hari/Tanggal               :    Selasa/4 Desember 2012
Waktu /tempat            :    14.00-16.00 WITA/ Laboratorium Kimia Fakultas MIPA Universitas Mataram. 

B.   LANDASAN TEORI
Kata stoikiometri berasal dari kata yunani “soichon” yang berarti unsure dan “metron” yang berarti pengukuran. Tepatnya disini adalah penentuan perbandingan masa unsure-unsur dan senyawa-senyawanya. Reaksi kimia menyebabkan tarbentuknya materi baru. Apakah masa materi berubah akibat reaksi kimia? jawaban atas pertanyaan itu di kemukakan oleh kimiawan prancis, antonie laurent lavoisier, berdasarkan percobaan yang dilakukannya dengan cara menimbang massa materi sebelum dan sesudah berlangsungnya reaksi kimia , ia berkesimpulan bahwa massa materi sebelum dan sesudah reaksi kimia berlangsung ternyata sama. Kesimpulan lavoisier tersebut dikenal sebagai Hukum Kekekalan Massa,yang berbunyi “massa materi sebelum dan sesudah reaksi kimia selalu tetap” (Retnowati. 2008)
Stoikiometri dalam reaksi salah satunya dapat ditemui pada reaksi pengendapan (purba, 2006). Salah satu jenis reaksi yang umumnya berlangsung dalam larutan berair adalah reaksi pengendapan (precipitation reaction) yang cirinya adalah terbentuk produk yang tak larut atau endapan. Endapan (precipitate) adalah padatan tak larut yang terpisah dari larutan. Reaksi pengendapan biasanya melibatkan senyawa-senyawa ion (Chang. 2004).
Tujuan utama dari reaksi pengendapan adalah untuk memisahkan suatu fase padat murni dalam bentuk yang kompak dan rapat yang dapat di saring dengan mudah. Zat pengendapan yang encer ditambahkan dengan perlahan-lahan dan sambil diaduk. Dalam teknik yang dikenal sebagai pengendapan dari larutan homogeni, zat pengendap tidak ditambahkan sebagai zat pengendap itu sendiri, melainkan dibentuk dengan perlahan-lahan dari reaksi kimia homogeni didalam larutan itu. Dengan demikian, endapan dibentuk pada kondisi yang tak mengandung efek konsentrasi yang tak dikehendaki, sesuatu yang akan terelakkan  terkait dengan proses pengendapan konvensional (Vogel:1994). Endapan akan rapat dan mudah di saring; kopresipitasi berkurang sampai minimum. Endapan dan larutan  dapat dipisahkan menggunakan kertas saring dan unuk menghitung persentase endapan yang dihasilkan, dapat dihitung berdasarkan stoikiometrinya (Purba. 2006).
C.   ALAT DAN BAHAN
            Alat:
Ø  Tabung reaksi
Ø  Timbangan analitik
Ø  Corong
Ø  Erlenmeyer
Ø  Water bath
Bahan:
Ø  Larutan Pb asetat
Ø  Larutan H2SO4 1 M
Ø  Kertas saring
Ø  Aquades

D.   CARA KERJA
                                                   Tabung reaksi
                                                                + 5 ml Pb (CH3COO)2
                                                                + 5ml H2SO4
       Hasil
-  Dilipat kertas saring menjadi ¼
-  Dibasahi dinding corong
-  Dituangkan larutan ke dalam Erlenmeyer dengan menggunakan kertas   saring  yang dilekatkan pada corong
-  Tabung reaksi dibilas dengan aquades
   Hasil
-  Kertas saring dan endapan dikeringkan
-  Kertas saring dan endapan ditimbang
                                                                       Hasil
E.    HASIL PENGAMATAN
Persamaan reaksi pengendapan
Pb(CH3COO)2 (l) + H2SO4(l)                                PbSO4(s) + 2 CH3COOH(l)  
Endapan yang terbentuk adalah  PbSO4
Warna zat sebelum reaksi        :           Bening
Warna zat setelah reaksi          :           Putih pekat
Warna endapan                       :           Putih pekat
 Berat endapan                                    :           0,67 gr

F.    ANALISIS DATA
Persentase hasil berdasarkan stoikiometrinya
a.       Secara teori
-Konsentrasi Pb(CH3COOH)2 = 1 M          
 Volume                                   = 5 ml
         mmol = M x V
                   = 1   x 5
                   = 5 mmol
-Konsentrasi H2S04      = 1 M
 Volume                                   = 5 ml
         mmol = M x V
                   = 1   x 5
                   = 5 mmol

                              Pb(CH3COOH)2 + H2SO4                  PbSO4 + 2 CH3COOH
Mula-mula   5 mmol                  5mmol                         -                
Bereaksi       5 mmol                  5 mmol                  5 mmol           
                                                                                                                          
Sisa                   -                              -                       5 mmol            -

         Mmol PbS04  = 5 mmol
                                = 0,005 mol

         Mol (n)            =  gr/ Mr
         gr                     = mol x Mr PbS04
                                 =0,005 x 303
                                 = 1,515 gr
b.      Secara percobaan
-Berat kertas saring                          = 1,08 gr
-Berat kertas saring+ endapan         = 1,75 gr
-Berat endapan                                = 1,75-1,08
                                                         =0,67 gr

% Rendemen            = 
                                           =
                                          = 44,22%

G.   PEMBAHASAN
Endapan PbS04 dihasilkan dari percampuran antara Pb(CH3COO)2 dan H2S04. Sebelum terbentuk endapan, warna larutan berwarna bening. Setelah terbentuk  endapan, warna larutan berubah menjadi putih pekat sesuai dengan warna endapan yang terdapat di dasar larutan.
Setelah terbentuk endapan, larutan harus disaring agar terpisah dari endapannya.  Teknik penyaringan ini menggunakan media kertas saring yang dilekatkan pada corong di atas erlenmeyer. Sebelum disaring, kertas saring dilipat lalu dibasahi aquades agar melekat pada dinding corong sehingga memudahkan dalam memasukkan larutan ke dalam erlenmeyer. Proses penyaringan akan memisahkan larutan dengan endapannya. Endapan akan tertinggal pada kertas saring sedangkan larutan akan ikut masuk ke dalam Erlenmeyer. Sebelum proses penyaringan berakhir, tabung reaksi dibilas dengan aquades kemudian dituangkan kembali pada kertas saring. Hasilnya akan tetap meninggalkan endapan pada kertas saring. Setelah proses penyaringan endapan, endapan dan kertas saring harus dikeringkan untuk kemudian ditimbang. Proses penimbangan bertujuan agar dapat diketahui berat endapan+kertas saring, berat endapan,  dan berat kertas saring. Dapat dihitung berapa persentase endapannya dengan stoikiometri. Dalam perhitungan ini, digunakan dua metode yaitu secara teori dan secara percobaan.  Secara teori, masing-masing dihitung nilai mmol larutan  Pb(CH3COOH)2  dan H2S04. Nilai mmol ini didapatkan dari perkalian Volume (V) dan Molaritas (M) kedua larutan. Kemudian untuk menghitung mmol endapan (PbS04), terlebih dahulu harus diketahui reaksi kesetimbangannya. Setelah mendapatkan nilai mmol PbS04, kemudian dikonversikan ke nilai mol (n) untuk dapat dihitung nilai gr endapannya. Nilai gr didapatkan dari perkalian mol  dan Mr PbS04. Secara percobaan didapatkan dari hasil penimbangan diantaranya: berat kertas saring 1,08 gr, berat kertas saring+endapan 1,75 gr, dan berat endapan 1,75 gr. Kemudian dapat dihitung persentase endapan dengan perbandingan gr endapan secara percobaan (penimbangan) per endapan secara teori dikalikan dengan 100%. Maka didapatkan persentase endapannya.

H.    KESIMPULAN DAN SARAN
1.      Kesimpulan
Percampuran antara Pb(CH3COO)2 dan H2S04 menghasilkan suatu endapan yaitu PbS04.  Endapan dapat dipisahkan dengan larutan melalui kertas saring. Secara teori dan percobaan didapatkan bahwa terdapat perbedaan berat endapan yang dihasilkan. Adapaun persentase hasil berdasarkan hasil, didapatkan % rendemen yaitu sebanyak 44,82%.
2.      Saran
Dalam pengambilan larutan baik Pb(CH3COO)2 dan H2S04, harus dilakukan dengan  teliti dan hati-hati agar larutan yang diambil sesuai dengan konsentrasi (ml) yang dibutuhkan.  Pastikan kertas saring dan endapan telah kering benar sebelum dilakukan penimbangan.
DAFTAR PUSTAKA
Chang, Raymond. 2004. Kimia Dasar : Konsep-konsep Inti. Jakarta:Erlangga
VOGEL. 1994.Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Jakarta:EGC.
Purba Michael. 2006. Kimia Sma Kelas IX.  Jakarta: Erlangga





ACARA IV
MENGHITUNG DAN MENGUKUR PH ASAM DAN BASA KUAT
A.   PELAKSANAAN PRAKTIKUM
Tujuan                  : Menghitung dan mengukur pH berbagai konsentrasi larutan                asam dan basa kuat   
          Hari/Tanggal          : Selasa/11 Desember 2012
          Waktu/Tempat       : 14.00-16.00 WITA/Laboratorium Kimia Fakultas  MIPA                               Universitas Mataram
B.   LANDASAN TEORI
Ada beberapa definisi mengenai asam dan basa. Menurut Svante August Arrhenius, asam adalah zat yang dilarutkan dalam air akan menghasilkan ion H+ sedangkan basa adalah zat yang jika dilarutkan dalam air akan menghasilkan ion OH-.  Menurut Johannes Bronsted dan Thomas Lowry, asam adalah zat yang dapat memberikan proton (H+) pada zat lain (donor proton), sedangkan basa adalah zat yang dapat menerima proton (H+) dari zat lain (akseptor proton).  Menurut Gilbert Newton    Lewis, suatu zat termasuk asam jika dapat memberi pasangan elektron dan tergolong basa jika dapat memberi pasangan elektron (Sandri Justiana, dkk, 2010). Konsentrasi ion H+ dan ion OH- hasil ionisasi air sangat kecil, maka untuk memudahkannya digunakan notasi pH dan pOH. Notasi pH menyatakan derajat keasaman suatu larutan. (Budiyanto, 2011).
S.P.L Sorensen, seorang ahli kimia dari Denmark, yang mengusulkan konsep pH (power of Hydrogen)  untuk menyatakan konsentrasi ion H+, yaitu dengan negatif logaritma konsentrasi ion H+. Secara matematika diungkapkan dengan persamaan pH = - log [H+]. Jika [H+] = 1 x 10-n, maka pH = n. Jika [H+] = A x 10-n, maka pH = n - logA (Purba, 2007).
Sistem asam basa suatu larutan dapat diamati dari nilai pH. Larutan asam mempunyai nilai pH<7, larutan netral mempunyai nilai pH=7, sedangkan larutan basa mempunyai nilai pH>7. Semakin kecil nilai pH, sifat zat semakin asam. Sebaliknya, semakin besar nilai pH, sifat zat semakin basa (Wibisono, 2002).
C.   ALAT DAN BAHAN
Alat:
Ø  Kertas pH universal
Ø  Labu ukur 50 ml
Ø  Pipet tetes


             Bahan:
Ø  NaOH pelet
Ø  HCl 1 M
Ø  Aquades
Ø  Kertas pH universal
D.   SKEMA KERJA
a.       LARUTAN BASA (NaOH)
            50 ml NaOH 0,1 M                 50  ml NaOH 0,75 M              50 ml NaOH 0,5 M

                                               
-   pH diukur dengan kertas universal

Hasil

b.      LARUTAN ASAM (HCl)

            50 ml NaOH 0,1 M                 50  ml NaOH 0,75 M              50 ml NaOH 0,5 M
 


-   Mengecek pH dengan kertas universal

 Hasil
E.    HASIL PENGAMATAN
No
Larutan yang Diuji
pH Teoritis
(Hasil Perhitungan)
pH Hasil Percobaan
1
50 ml NaOH 1 M
14
14
2
50 ml NaOH 0,75 M
13,87
14
3
50 ml NaOH 0,5 M
13,7
14
4
25 ml HCl 0,5 M
0,3
1
5
20 ml HCl 0,4 M
0,4
1
6
10 ml HCl 0,2 M
0,7
2

F.    ANALISIS DATA
a.       LARUTAN BASA (NaOH)

·         50 ml NaOH 1 M
pOH = - log [OH-]              pH = 14 - pOH
                                 = - log 1                            = 14 - 0
                                 = 0                                   = 14

·         50 ml NaOH 0,75 M                          
pOH = - log [OH-]                pH = 14 - pOH
                                 = - log [75x10-2]                = 14 - 0,13
                                 = 2 - log 75                         = 13,87
                                 = 2 - 1,87
                                 = 0,13

·         50 ml NaOH 0,5 M                            
pOH = - log [OH-]              pH = 14 - pOH
                                 = - log [5x10-1]                = 14 - 0,3
                                 = 1 - log 5                        = 13,7
                                 = 1 - 0,7
                                 = 0,3

b.      LARUTAN ASAM (HCl)

·         25 ml HCl 0,5 M
pH    = - log [H+]                                
                                 = - log [5x10-1]
                                 = 1 - log 5
                                 = 0,3

·         20 ml HCl 0,4 M
pH    = - log [H+]                                
                                 = - log [4x10-1]
                                 = 1 - log 4
                                 = 1 - 0,7
                                 = 0,3

·         10 ml HCl 0,2 M
pH    = - log [H+]                                
                                 = - log [2x10-1]
                                 = 1 - log 2
                                 = 1 - 0,3
                                 = 0,7

G. PEMBAHASAN
Sistem asam-basa suatu larutan dapat diamati dari nilai pH. Larutan basa mempunyai pH>7, larutan netral mempunyai nilai pH=7, larutan asam menpunyai nilai pH<7. Semakin kecil nilai pH, sifat zat semakin asam, begitu juga sebaliknya.
Dalam percobaan ini dibuat larutan asam (HCl) dan basa (NaOH) dengan konsentrasi yang berbeda-beda. Langkah pertama untuk membuat larutan 50 ml NaOH 1 M adalah menghitung berapa gram NaOH yang harus ditimbang kemudian dilarutkan dalam labu takar 50 ml. Untuk mengetahui massa NaOH yang diperlukan dapat digunakan rumus:     
N         = M x V
  = M x V
             gr     = M x V x Mr
               gr     = 1 x 0,05 x 40
gr         = 2
Jadi, NaOH yang diperlukan sebanyak 2 gram. Setelah dihitung massa NaOH yang dibutuhkan, masukkan NaOH ke dalam gelas kimia dan timbanglah berat NaOH tersebut berdasarkan perhitungan yakni 2 gram dengan timbangan analitik. Caranya terlebih dahulu meletakkan gelas kimia di timbangan dan menolkannya lalu memasukkan NaOH ke dalam gelas kimia sehingga yang tertimbang hanya massa NaOH saja. NaOH hasil timbangan tersebut kemudian ditambahkan sedikit aquades hingga larut lalu dimasukkan ke dalam labu takar 50 ml, kemudian ditambahkan aquades lagi sedikit demi sedikit sampai tanda batas untuk melarutkannya. Hal yang serupa juga dilakukan untuk membuat dua  larutan NaOH yang lain.
Selanjutnya kita membuat larutan HCl dengan konsentrasi dan volume yang berbeda-beda dari larutan induk HCl 1 M. Langkah pertama untuk membuat larutan 25 ml HCl 0,5 M adalah dengan menghitung volume HCl 1 M yang akan digunakan dengan menggunakan rumus pengenceran:
M1 x V1 = M2 x V2
   1 x V1 = 0,5 x 25
         V1 = 12,5 ml
Jadi, untuk membuat larutan 25 ml HCl 0,5 M diperlukan 12,5 ml HCl 1 M. Kemudian pipetlah 25 ml larutan HCl tersebut dengan pipet ukur. Masukkan ke dalam labu ukur dan encerkan dengan aquades sampai tanda batas. Pengenceran dilakukan berlahan-lahan, setelah mendekati tanda batas gunakan pipet tetes sehingga air yang ditambahakan tidak melebihi tanda batas. Hal yang sama juga dilakukan untuk membuat larutan 20 ml HCl 0,4 M dan larutan 10 ml HCl 0,2 M.
Setelah semua larutan jadi, celupkan pH stick ke dalam larutan 25 ml HCl 0,5 M dan tentukan pH larutan dengan rumus:
pH    = - log [H+]                                
         = - log [5x10-1]
                                             = 1 - log 5
         = 0,3
Hal yang sama juga dilakukan pada larutan HCl yang lain. Sedangkan untuk menentukan pH larutan 50 ml NaOH 1 M menggunakan rumus:
pOH = - log [OH-]      pH = 14 - pOH
         = - log 1                    = 14 - 0
         = 0                             = 14
Lakukan hal yang sama pada larutan NaOH yang lain.
H. KESIMPULAN DAN SARAN
1.      Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan, dapat diketahui pH masing-masing larutan asam (HCl) dan basa (NaOH) dengan cara teoritis dan percobaan. Terdapat perbedaan hasil perhitungan dan percobaan pada pengukuran pH, meskipun perbedaan tersebut tidaklah terlalu jauh, masih pada rentang tingkat keasaman ( HCl<7) dan basa (NaOH>7). Perbedaan tersebut kemungkinan dikarenakan kekurangtepatan menentukan hasil pembacaan pH pada saat percobaan.
2.      Saran
Untuk mendapatkan hasil pembacaan pH larutan yang lebih akurat sebaiknya dengan menggunakan pH meter digital.



DAFTAR PUSTAKA
Budiyanto. 2011. Penentuan pH Asam Basa. Diperoleh 14 Desember 2012, dari Materi       Pelajaran SMA: http://budisma.web.id
Purba, M. 2007. Kimia 2 untuk SMA Kelas XI. Jakarta: Erlangga.
Sandri Justiana, dkk. 2010. Chemistry 2 For Senior High School Year XI. Bogor: Yudhistira.
Wibisono, L. 2002. Intisari Kimia Umum. Jakarta: Hipokrates.





ACARA V
IDENTIFIKASI KARBOHIDRAT, PROTEIN, DAN LEMAK
A.   PELAKSANAAN PRAKTIKUM
Tujuan                      :  Mengidentifikasi sifat reduksi dan non-reduksi Karbohidrat dan reaksi hydolisa, disakarida dan polisakarida. Uji sifat-sifat protein termasuk denaturasi, kelarutan, pengendapan serta uji lemak meliputi kelarutan serta reaksi penyabunan.       
Hari/Tanggal            :  Selasa/4 Desember 2012
Waktu dan Tempat  :  14.00-16.00 WITA/Laboratorium Kimia Fakultas MIPA Universitas Mataram.  
    B. LANDASAN TEORI
Simpanan karbohidrat yang paling banyak dan satu-satunya yang dapat diisi lagi terdapat dalam dunia tumbuhan, di mana simpanan tersebut meliputi sebagian besar berat kering jaringannya. Sebaliknya pada jaringan hewan mengandung  sejumlah kecil karbohidrat, yang pada manusia karbohidrat tersebut kurang dari 1 % (Montgomery, dkk, 1994).
Karbohidrat ialah polihidroksialdehida, polihidroksiketon, atau zat yang dapat memberikan senyawa seperti itu jika dihidrolisis. Karbohidrat biasanya digolongkan menurut strukturnya sebagai monosakarida, disakarida, dan polisakarida. Monosakarida adalah karbohidrat paling sederhana, tidak dapat dihidrolisis menjadi karbohidrat yang lebih sederhana. Semua monosakarida adalah zat padat berwarna putih yang mudah larut dalam air. Larutan monosakarida bermuatan positif dengan pereaksi Fehling atau Benedict maupun Tollens. Beberapa monosakarida diantaranya Glukosa, Fruktosa, dan Ribosa dan 2-Deoksiribosa. Disakarida dapat dihidrolisis menjadi dua monosakarida. Disakarida terbentuk dari dua molekul monosakarida. Ikatan yang menghubungkan unit-unit monosakarida dalam disakarida, juga dalam polisakarida disebut ikatan glikosida. Disakarida terpenting adalah sukrosa, maltose, dan laktosa. Polisakarida dapat dihidrolisis menjadi banyak molekul monasakarida.polisakarida terpenting adalah amilum, glikogen, dan selulosa. Semua polisakarida sukar larut dalam air dan tidak mereduksi pereaksi fehling, benedict maupun tollens (Hart, 2003).
Gula pereduksi yaitu monosakarida dan disakarida (kecuali sukrosa) dapat ditunjukkan dengan pereaksi fehing dan beneduct. Gula pereduksi yang bereaksi dengan fehling atau benedict akan menghasilkan endapan berwarna merah bata(Cu20). Polisakarida yang penting, yaitu amilum, glikogen, dan selulosa dapat ditunjukkan dengan larutan iodine, suspense amilum dengan larutan iodine member warna biru ungu. Suspense glikogen member warna coklat merah. (Anwar, 2009).
Menurut teori, proses penambahan asam amino pada rantai peptida dapat berlangsung terus. Jika banyaknya residu asam amino lebih besar dari sekitar 100, peptida dinamakan protein. Protein dapat membentuk zwitter ion dalam larutan berair seperti halnya asam amino. Selain itu, menurut Henry Bence-Jones,seorang dokter Inggris mengatakan bahwa, protein yakni rantai yang ringan dari satu spesies antibodi yang dihasilkan oleh sel myeloma,senyawa ini terdeteksi dalam kemih penderita myeloma ganda (Montgomery, dkk, 1994).
Protein dapat diendapkan dengan penambahan alkohol. Pelarut organik akan mengurangi konstanta dielektrika dari air,sehingga kelarutan protein berkurang,dan juga karena alkohol akan berkompetisi dengan protein terhadap air (Hart, 2003).
Protein  juga mudah terdenaturasi, denaturasi terjadi ketika protein alami membentang akibat putusnya jembatan disulfida atau terganggunya gaya tarik lemah. Denaturasi protein mungkin dapat balik dan mungkin juga tidak. Protein pada putih telur membentang dan membeku menjadi bahan serupa karet  jika direbus. Denaturasi ini tak dapat balik karena protein tersebut tidak mungkin kembali ke keadaan semula. pH yang ekstrem dan banyak bahan kimia juga dapat menyebabkan denaturasi tak dapat balik, yaitu dengan menggangu gaya tarik yang lemah. Protein  denaturasi yang dapat balik,protein membentang karena adanya senyawa pendenatur seperti laretan urea pekat, tetapi kembali melipat setelah   senyawa tersebut tak ada. Denaturasi yang dapat atau tak dapat balik cukup beragam,bergantung pada protein yang bereaksi dan keadaan reaksi (Anwar, 2009).
Salah satu kelompok senyawa organik yang terdapat dalam tumbuhan, hewan, atau manusia dan yang sangat berguna bagi kehidupan manusia ialah lipid. Untuk memberikan definisi yang jelas tentang lipid sangat sukar, sebab senyawa yang termasuk lipid tidak mempunyai rumus struktur yang serupa atau mirip. Sifat kimia dan fungsi biologinya juga berbeda-beda. Walaupun demikian para ahli biokimia bersepakat bahwa lemak dan senyawa organik yang mempunyai sifat fisik seperti lemak, dimasukkan dalam satu kelompok yang disebut lipid.Adapun sifat fisika yang dimaksud ialah : tidak larut dalam air, tetapi larut dalam satu atau lebih dari satu pelarut organik misalnya eter, aseton,kloroform,benzena yang sering juga disebut pelarut lemak; ada hubungan dengan asam-asam lemak atau esternya; mempunyai kemungkinan digunakan oleh makhluk hidup. Kesepakatan ini telah disetujui oleh Kongres Internasional Kimia Murni dan Terapan.  Jadi berdasarkan pada sifat fisika tadi, lipid dapat diperoleh dari hewan atau tumbuhan dengan cara ekstraksi menggunakan alkohol panas, eter, atau pelarut lemak yang lain. (Poedjiadi, 1994).
Untuk mengidentifikasi kualitas lemak atau minyak dapat dilakukan uji sifat fisika dan kimianya, antara lain indeks bias, viskositas, berat jenis, bilangan penyabunan, bilangan asam, bilangan iod dan bilangan peroksida. Bilangan penyabunan adalah jumlah 19miligram KOH yang diperlukan untuk menyabunkan  satu gram lemak atau minyak. Bilangan asam merupakan jumlah miligram KOH yang dibutuhkan untuk menetralkan asam-asam lemak bebas yang terdapat pada satu gram lemak atau minyak.  Bilangan peroksida didefiniskan sebagai jumlah mg peroksida dalam setiap 1000 g (1 kg) minyak atau lemak. Bilangan iod adalah jumlah gram iod yang dapat diikat oleh 100 gram lamak atau minyak, ikatan rangkap yang ada pada lemak tidak enuh akan bereaksi dengan iod atau senyawa-senyawa iod. Bilangan iod menyatakan derajat ketidakenuhan lemak atau minyak (Tim Penyusun Praktikum Biokimia, 2010 ).
C.   ALAT DAN BAHAN
            Alat:
Ø  Tabung reaksi
Ø  Gelas arloji
Ø  Spatula
Ø  Water bath
Ø  Penjepit
Ø  Thermometer
Ø  Pipet tetes
Ø  Kertas saring
Ø  Erlenmeyer
Ø  Beaker glass
            Bahan:
Ø  Glukosa, Fruktosa       
Ø  Telur
Ø  Minyak goreng
Ø  Sukrosa                                                
Ø  Reagen Benedict                                                                                             
Ø  Amilum            
Ø  Aquades                                                          
Ø  HCL pekat 0,1 dan 1 M
Ø  Iodine
Ø  H2SO4
Ø  Eter
Ø  Buffer Asetat (pH 4,7)
Ø  Etanol 95%
Ø  Pb Asetat
Ø  NaOH 0,1 M dan 1 M
Ø  HCL 0,1 M dan 1 M





D.    PROSEDUR KERJA
1.       SKEMA KERJA UJI KARBOHIDRAT
a.       Benedict Test
      Tabung reaksi I     Tabung reaksi II           Tabung reaksi III        Tabung reaski IV
          (glukosa)              (fruktosa)                            (sukrosa)                   (amilum)
                                               
 + 2 ml larutan benedict
        Hasil                                                                    
-   Dipanaskan 2 menit di water bath
                                                                               Hasil
b.      Hydrolisa Disakarida
2 % sukrosa 3ml
                                     Tabung reaksi I                                  Tabung reaksi II
+ 3ml air                                                   + 3 ml air
+ 3 tetes HCL pekat                                 + 5 tetes reagen benedict
-   Dipanaskan  5 menit
                        Hasil                                                      Hasil
                                          + 15 tetes NaoH 1M
                                          + 5 tetes reagen benedict
                                    Hasil
c.       Hydrolisa Polisakarida
2 % Amilum 3ml
 

                            Tabung reaksi I                                           Tabung reaksi  II
                                    + 3 tetes HCL pekat   + Iodine
-      Dipanaskan
                              Hasil                                                                 Hasil
                                    + 3 tetes NaOH 1 M
                                    + 5 tetes reagen benedict
-  Dipanaskan lagi 5 menit
                             Hasil
+ Dimasukkan 1 tetes larutan ke dalam piring porselin berisi Iodine
                                     


                              Hasil
2.      SKEMA KERJA UJI PROTEIN
a.       Uji Pengendapan dengan alkohol
5 ml protein

                        Tabung reaksi I                 Tabung reaksi II                Tabung reaksi III
                                + 1 ml HCL                            + 1ml NaOH 0,1 M         +1 ml buffer asetat
                                + 5 ml etanol 95%                  + 5 ml etanol 95%            +5 ml etanol 95 %

                          Hasil                                        Hasil                               Hasil
b.      Uji denaturasi Protein

9 ml protein

                    Tabung reaksi I                     Tabung reaksi II                 Tabung reaksi  III
+1 ml HCL 0,1 M                  +1 ml NaOH 0,1 M            + 1 ml buffer asetat
-  Dipanaskan 15 menit           - Dipanaskan 15 menit        - Dipanaskan 15menit
                   Hasil                                          Hasil                                  Hasil

3.      SKEMA KERJA UJI LEMAK

a.       Uji kelarutan
1 ml minyak goreng

Tabung reaksi  I          Tabung reaksi  II         Tabung reaksi III     Tabung reaksi IV
   + 1 ml air                    + 1 ml etanol               + 1 ml eter                 + 1 ml NaOH 1 M
-   Diaduk                    -  Diaduk                     - Diaduk                    - Diaduk
Hasil                          Hasil                             Hasil                          Hasil

b.      Penyabunan lemak
     Gelas bekker
       + 5 ml minyak goreng
                                           + NaOH 1 M
                         `                                                    + Dipanaskan pada suhu 700 C
 Hasil
                                                                              + Ditambahkan HCl 1 M 5 ml
                                               
                                                                        Hasil
E.     HASIL PENGAMATAN
1.      UJI KARBOHIDRAT
a.       Benedict test
Tabung Reaksi No
Jenis Karbohidrat
Indikator Benedict
1
Glukosa
Biru menjadi merah bata
2
Fruktosa
Biru menjadi merah bata
3
Sukrosa
Tidak ada perubahan warna (tetap biru)
4
Amilum
Tidak ada perubahan warna (tetap biru)

b.      Hydrolisa Disakarida
Tabung reaksi No
Sukrosa
HCL pekat
Benedict
Indikator
1
3 ml
3 tetes
5 tetes
Warna oranye
2
3 ml
-
5 tetes
Warna bening kebiruan

c.       Hydrolisa Polisakarida
Tabung reaksi No
Amilum
HCL Pekat
Benedict
Indikator
1
3 ml (+iodium)
3 tetes
5 tetes
Hijau muda
2
3 ml (+iodium)
-
-
Biru tua

2.      UJI PROTEIN
a.       Uji pengendapan dengan alkohol
Tabung Reaksi No
Pereaksi
Hasil
I (5 ml Protein)
1 ml HCL 0,1 M
5 ml etanol 95 %
Terbentuk endapan di permukaa  larutan (HCL 0,1 M dan etanol 95 % tidak larut).
II (5 ml Protein)
1 ml NaOH 0,1 M
5 ml etanol 95%
Tidak terbentuk endapan (NaOH 0,1 M dan etanol 95 % larut).
III (5 ml (protein)
1 ml buffer asetat
5 ml etanol 95 %
Terbentuk endapan di permukaan larutan (Buffer asetat dan etanol 95 % tidak larut)





b.      Uji denaturasi protein
Tabung
Pereaksi
Perlakuan
Hasil

I (9 ml Protein)
1 ml HCl 0,1 M

Dipanaskan selama 15 menit di water bath.
Terjadi endapan berwarna putih pada dasar larutan dan pada permukaan berwarna bening. Semua bagian membeku.



II (9 ml Protein)
1 ml NaOH 0,1 M

Dipanaskan selama 15 menit di water bath.
Terjadi endapan berwarna putih pada dasar larutan dan pada permukaan berwarna bening dan semua bagian membeku.



III (9 ml Protein)
1 ml buffer asetat
Dipanaskan selama 15 menit di water bath.
Dari atas permukaan hingga bawah hanya terjadi pembekuan



3.      UJI LEMAK
a.       Uji kelarutan
Tabung reaksi No
Pereaksi
Hasil
I  (1 ml minyak goreng)
1 ml air
Tidak larut
II ( 1 ml minyak goreng)
1 ml etanol
Tidak larut
III (1 ml minyak goreng)
1 ml eter
Larut
IV (1 ml minyak goreng)
1 ml NaOH
Tidak larut

b.      Penyabunan lemak
Tabung
NaOH 1 M
Pemanasan
HCL 1 M
Hasil
1
42 ml
20 menit
5 ml
Terbentuk sabun

F.      PEMBAHASAN
Benedict test memberi warna merah bata pada uji karbohidrat glukosa dan fruktosa. Tetapi tidak memberi perubahan warna pada sukrosa dan amilum. Adapun dalam percobaan ini dilarutkan  masing-masing 2 ml benedict dan 2 tetes karbohidrat(glukosa, fruktosa, sukrosa, amilum)  pada setiap tabung reaksi, kemudian dipanaskan selama 2 menit. Pada saat sebelum dipanaskan, percampuran benedict dan karbohidrat belum memperlihatkan perubahan warna apapun. Baru setelah dipanaskan terjadi perubahan warna. Benedict test juga memberi endapan pada karbohidrat. Hasil hyrolisa Disakarida salah satunya adalah sukrosa. Pada percobaan pengujian karbohidrat (dlam hal ini sukrosa) uji hydrolisa disakarida, digunakan 2 buah tabung yang berisi sukrosa 2 % 3ml  dengan perlakuan yang berbeda. Pada tabung reaksi I sukrosa 2 % 3ml  ditambahkan dengan 3 ml air + 3 tetes HCL lalu dipanaskan dan setelah dingin dinetralkan dengan 15 tetes NaOH 1 M kemudian ditambahkan 5 tetes reagen benedict. Sedangkan pada tabung reaksi II hanya ada penambahan 3ml air dan 5 tetes reagen benedict tanpa ada HCL pekat dan proses pemanasan. Proses pemanasan larutan pada tabung I memberi warna oranye sedangkan larutan pada tabung II tanpa pemanasan dan HCL pekat member warna bening kebiruan. Hasil  hydrolisa polysakarida salah satunya adalah amilum. Sama dengan pengujian karbohidrat sebelumnya (Hydrolisa disakarida), pada percobaan ini digunakan 2 buah tabung reaksi yang berisi amilum 2% 3ml dengan perlakuan yang berbeda. Amilum pada tabung reaksi I dilarutkan dengan 3 tetes HCL lalu dipanaskan. Pada perlakuan ini, larutan belum menunjukkan perubahaan warna. Kemudian mengalami proses pemanasan  lagi setelah ditambahkan NaOH 1 M dan Reagen Benedict. Sebelum perlakuan berakhir, larutan pada tabung reaksi I diambil setetes dan ditambahkan pada piring porselin yang berisi Iodine. Larutan menunjukkan perubahan warna setelah pemanasan kedua, larutan berubah warna dari puti menjadi hijau muda. Penambahn larutan pada iodine, menyebabkan perubahan wujud dari iodine yang semula padat menjadi cair dan berwarna biru tua pekat. Sedangkan pada tabung reaksi II, hanya terdapat penambahan iodine pada amilum 2% 3ml. Perlakuan ini member perubahan warna pada larutan menjadi biru tua.
            Pengujian protein dapat dilakukan dengan dua pengujian diantaranya: uji pengendapan dengan alcohol dan uji denaturasi protein. Pada uji pengendapan dengan alcohol, disediakan 3 tabung reaksi yang masing-masing berisi 5 ml protein dan 5 ml etanol 95 %. Kemudian diberikan 3 macam pereaksi pada yang berbeda-beda untuk setiap tabung. Pada tabung reaksi I diberikan  1 ml HCL 0,1 M ,  tabung reaksi II  1 ml NaOH 0,1 M dan tabung reaksi III 1ml buffer asetat. Dari ketiga pengujian didapatkan hasil bahwa hanya buffer asetat+NaOH 0,1 M yang dapat larut dalam larutan protein tanpa menimbulkan endapan. Sedangkan dua larutan lainnya, tidak menunjukkan kelarutan pada larutan protein. Hal ini dibuktikan dengan adanya endapan pada larutan yang tidak larut. Pengujian denaturasi protein, memberikan masing-masing 9ml larutan protein pada 3 buah tabung reaksi. Tabung reaksi I, ditambahkan dengan 1 ml HCL 0,1 M, Tabung reaksi II dengan 1 ml NaOH 0,1 M, dan tabung reaksi III dengan 1ml buffer asetat. Kemudian dilakukan proses pemanasan masing-masing selama 15 menit. Hasil dari proses ini adalah terbentuknya endapan berwarna putih pada dasar larutan, warna bening pada permukaan larutan, dan pembekuan pada semua bagian larutan. Namun pada tabung reaksi III hanya terjadi pembekuan tanpa adanya endapan.
Pengujian lemak dilakukan dengan dua cara, yaitu: Uji kelarutan dan uji penyabunan.Pada uji kelarutan, disetiap tabung reaksi ditambahkan 9 ml minyak goreng dengan masing-masing pereaksi yang berbeda-beda. Pada tabung reaksi I ditambahkan 1 ml air,  tabung reaksi II ditambahkan 1 ml etanol, tabung reaksi III ditambahkan 1 ml eter, tabung reaksi IV ditambahkan 1 ml NaOH 1 M. Hasil dai setiap tabung reaksi adalah: Pada tabug reaksi I, didapatkan hasil bahwa lemak (minyak) tidak larut dalam air dan menyebabkan air menjadi keruh. Pada tabung reaksi II, lemak (minyak) dalam etanol tidak larut. Begitu juga pada tabung reaksi IV, lemak (minyak) tidak larut dalam NaOH. Tetapi lain halnya dengan tabung reaksi III, ternyata minyak dapat larut dalam eter. Pada pengujian penyabunan lemak, hanya dibutuhkan satu gelas beker yang berisi 5 ml minyak goreng dan  penambahan NaOH 1 M  dan HCL 1 M, kemudian mengalami proses pemanasan pada suhu 70o C. Proses ini membuktikan proses penyabunan lemak yang dimulai dari timbulnya buih, lalu terbentuknya sabun yang masih belum mengeras dan pada akhirnya terbentuk sabun yang telah mengeras dengan penambahan HCL 1 M.

G.   KESIMPULAN DAN SARAN
1.      KESIMPULAN
Uji karbohidrat dengan indikator benedict terjadi perubahan warna. Pada glukosa, indikator benedict memberikan warna merah bata dan menimbulkan endapan. Begitu juga pada Fruktosa. Namun, Indikaor benedict  tidak memberikan perubahan warna dan endapan pada sukrosa dan amilum. Uji hydrolisa disakarida, pada tabung reaksi I menghasilkan larutan berwarna putih bersih sebelum pemanasan dan setelah pemanasan larutan berwarna oranye. Pada tabung reaksi II, menghasilkan larutan berwarna bening kebiruan.  Uji hydrolisa polisakarida, pada tabung reaksi I, warna berubah dari putih menjadi hijau muda. Pada tabung reaksi II, terdapat penambahan iodine pada amilum yang menyebabkan perubahan warna menjadi biru tua.
Uji  protein melalui pengendapan dengan alkohol, pada tabung reaksi I dan III terdapat endapan di permukaan larutan, namun pada tabung reaksi II tidak terdapat endapan. Sedangkan melalui uji denaturasi protein, pada tabung reaksi I dan II, terjadi endapan dan pembekuan larutan. Endapan terjadi di dasar larutan sedangkan pembekuan terjadi di seluruh bagian. Endapan berwarna putih dan pada permukaan berwarna bening. Namun pada tabung reaksi III hanya terjadi pembekuan di seluruh bagian larutan tanpa disertai endapan.
Uji lemak melalui uji kelarutan, dari empat tabung reasi yang direaksikan, hanya pereaksi eter   yang   dapat melarutkan minyak dalam air. Sedangkan tabung reaksi I, II, dan IV yaitu pereaksi ar, etanol, dan NaOH, menyebabkan minyak tidak larut. Ketidaklarutan minyak dalam pereaksi tersebut menyebabkan warna keruh pada  pereaksi. Sedangkan melalui uji penyabunan lemak, didapatkan bahwa penambahan NaOH ke dalam gelas bekker sedikit demi sedikit menyebabkan timbulnya buih-buih sabun yang lama kelamaan akan membentuk sabun yang masih belum mengeras (lembek). Setelah penambahan HCl 1 M sebanyak 5 ml akan menyebakan mengerasnya sabun.
2. SARAN
Dalam melakukan percobaan ini, diperlukan kehati-hatian dalam memperlakukan alat dan bahan yang ada.  Terutama pada pengambilan bahan-bahan keras seperti etanol dengan pipet tetes. Pastikan posisi pipet tidak membuat etanol merembes pada karet pipet. Kemudian hindari penggunaan pipet yang sama  untuk pengambilan larutan yang berbeda. Dalam proses penyabunan lemak, harus dipastikan benar berapa suhu yang tepat untuk pemanasan agar sabun dapat terbentuk. 

DAFTAR PUSTAKA
Tim penyusun,  2000.  Kimia SMA. Jakarta: Intan Pariwara.
Harold hart, Leslie E Craine, David J. Hart. 2003. Organic Chemistry a short course. Michigan: Houghton MifflinCompany.
Rex Montgomery, Robert L. Dryer, Thomas W. Conway, Arthur A. Spector. 1994. Biokimia sutu pendekatan berorientasi kasus.Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Anwar, Yunita Arian Sani. 2009. Buku ajar Biokimia 1. Universitas Matarm Press
Poedjiadi, Anna. 1994. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta : UI Press.

Tim Penyusun Praktikum Biokimia. 2010. Petunjuk Praktikum Biokimia. Mataram : Fakultas
MIPA Unram.
Hartono, Andry.2006. Terapi Gizi dan Diet Rumah Sakit. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC.