ACARA
I
PENGENALAN ALAT-ALAT DAN BAHAN PRAKTIKUM
A.
PELAKSANAAN
PRAKTIKUM
Tujuan :
Memperkenalkan beberapa macam alat-alat yang sederhana
dan bahan yang sering dipergunakan di Laboratorium Kimia
Hari/tanggal : Selasa/11
Desember 2012
Waktu/Tempat
: 14.00-16.00 WITA/Laboratorium Kimia Fakultas MIPA
Universitas Mataram
B.
LANDASAN TEORI
Alat dan bahan kimia
merupakan komponen yang terpenting didalam laboratorum kimia. Alat kimia merupakan suatu komponen
yang digunakan untuk membantu pengerjaan percobaan kimia.
Alat ini berfungsi daam berbagai hal seperti, pengisian larutan, wadah, dan
lain sebagainya. Alat-alat
tersebut disesuaikan berdasarkan bentuk dan fungsinya. Misalnya, alat pengukut
volume cairan yaitu gelas kimia, labu ukur ,slinder ukur, pipet atau buret yang
disesuaikan pada volume dan jenis benda yang ingin di ukur, massa dapat diukur
dengan neraca,alat pembakaran yang terdiri dari pembakar spiritus,dan pengukur
suhu yaitu termometer (Purba. 2006 ).
Laboratorium adalah suatu tempat
dimana mahasiswa atau Praktikan, dosen, dan peneliti melakukan percobaan. Dalam
kegiatan praktikum, hal mendasar yang harus dilakukan pertama kali adalah
mengenal berbagai alat dan bahan yang biasa digunakan. Ada beberapa faktor yang sangat
penting dalam mengetahui alat-alat yang ada dilaboratorium, yaitu masalah
alat-alat yang digunakan dan adanya ketelitian praktikan dalam melakukan
pengukuran dan perhitungan (Ibnu, 1976).
Begitupun
dengan Penanganan bahan sebelum melakukan praktikum sangat mempengaruhi hasil
praktikum. Bahan yang mudah menguap diletakkan didalam wadah, bahan kimia yang
dapat menimbulkan bahaya sebaiknya disimpan dalam sebuah lemari asam, sehingga
sangat dipelukan adanya pengenalan alat-alat dan bahan sebelum praktikum
dilaksanakan, demi kelancaran pelaksanaan praktikum (Neilands, 1990).
C.
ALAT DAN BAHAN
Alat:
Ø Labu
takar
Ø Gelas
kimia/gelas beker
Ø Spatula
Ø Erlenmeyer
Ø Corong
Ø Pipet
tetes
Ø Pipet
volume
Ø Pipet
gondok
Ø Rubbel
Bub
Ø Gelas
ukur
Ø Cawan
Bahan:
Ø Potassium
Iodine (KI)
Ø Potassium
Permanganate (KMnO4)
Ø Besi
(III) Cloride
Ø Natrium
Hidroksida (NaOH)
Ø Larutan
Benedict (CuSO4, Na2CO3, (Na3C6O7)
3H2O)
Ø Asam
Asetat (CH3COOH)
Ø Asam
Sulfat (H2SO4)
Ø Etanol
( C2H5OH)
Ø Asam
Klorida (HCl)
Ø Chloroform
(CHCl2)
D.
SKEMA KERJA
Alat-Alat dan Bahan Praktikum
- Diamati alat- dan
bahan
- Dicatat hasil
pengamatan
Hasil
E.
HASIL PENGAMATAN
1. Pengenalan
Alat
|
No
|
Nama
Alat
|
Gambar
Alat
|
Kegunaan
|
|
1
|
Labu
Takar
|
|
Mengencerkan
larutan
|
|
2
|
Gelas
Kimia
|
|
Menampung
larutan
|
|
3
|
Spatula
|
|
Mengaduk
larutan
|
|
4
|
Erlernmeyer
|
|
Menampung
larutan (biasanya digunakan untuk titrasi)
|
|
5
|
Corong
|
|
Menyaring
larutan
|
|
6
|
Pipet
Tetes
|
|
Mengambil
larutan dalam jumlah kecil
|
|
7
|
Pipet
Volume
|
|
Mengukur
volume larutan
|
|
8
|
Pipet Gondok
|
|
Mengambil
larutan
|
|
9
|
Rubbel
Bub
|
|
Menghisap
larutan yang akan digunakan dari botol larutan
|
|
10
|
Gelas
Ukur
|
|
Mengukur
larutan
|
|
11
|
Cawan
|
|
Menguapkan
larutan yang bersifat volatile
|
2. Pengenalan
Bahan
|
No.
|
Nama
Bahan
|
Rumus
Molekul
|
Bentuk/Warna
|
Sifat-Sifat
|
|
1
|
Potassium
Iodine
|
KI
|
Padat/Putih
|
Toksik,
tidak stabil bila terkena cahaya
|
|
2
|
Potassium
Permanganat
|
KMnO4
|
Padat/Hitam
|
Toksik,
oksidator kuat
|
|
3
|
Besia
(III) Clorida
|
FeCl3
|
Padat/Cokelat
Kekuningan
|
Toksik,
mudah teroksidasi oleh udara
|
|
4
|
Natrium
Hidroksida
|
NaOH
|
Padat/Putih
|
Toksik,
basa kuat, korosif
|
|
5
|
Benedict
|
CuSO4,
Na2CO3, (Na3C6H8O7)3H2O
|
Cair/Biru
|
Toksik,
penguji reduksi gula
|
|
6
|
Asam
Asetat
|
CH3COOH
|
Cair/Bening
|
Toksik,
asam lemah
|
|
7
|
Asam
Sulfat
|
H2SO4
|
Cair/Bening
|
Toksik,
asam kuat, korosif
|
|
8
|
Etanol
|
C2H5O
|
Cair/Bening
|
Flammable,
volatile
|
|
9
|
Asam
Klorida
|
HCl
|
Cair/Bening
|
Toksik,
korosif, asam kuat
|
|
10
|
Chloroform
|
CHCl3
|
Cair/Bening
|
Toksik,
non polar
|
F. PEMBAHASAN
Dalam praktikum pertama yaitu
“Pengenalan Alat-Alat dan Bahan Praktikum” akan dibahas tentang alat-alat dan
bahan yang ada dilaboratorium. Beberapa alat diantaranya adalah labu takar,
gelas kimia, spatula, erlenmeyer, corong, pipet tetes, pipet volume, pipet
gondok, rubble bub, gelas ukur, dan cawan. Sedangkan bahan-bahannya antara lain
Potassium Iodine, Potassium Permanganate, Besi (III) Cloride, Natrium
Hidroksida, Larutan Bennedict, Asam Asetat, Asam Sulfat, Etanol, Asam Klorida,
dan Chloroform. Labu takar digunakan untuk menakar volume zat kimia dalam
bentuk cair pada proses preparasi larutan. Alat ini tersedia dalam berbagai
macam ukuran, yaitu 5 ml sampai 5L. Gelas kimia adalah
sebagai tempat untuk melarutkan zat yang tidak membutuhkan ketelitian tinggi,
misalnya pereaksi reagen untuk analisis kimia kualitatif atau untuk pembuatan
larutan standar sekunder pada analisis titrimetri/volumetrik. Terdapat berbagai
ukuran mulai dari 25 ml sampai 5 Liter. jadi tidak cocok untuk pembuatan
larutan yang perlu ketelitian tinggi (secara kuantitatif). Spatula adalah alat untuk mengambil obyek. Spatula yang sering digunakan di laboratorium biologi atau kimia
berbentuk sendok kecil, pipih dan bertangkai.
Ada tiga jenis
spatula untuk keperluan laboratorium,yaitu spatula yang
terbuat dari logam (stainlessteel) Erlenmeyer
berbentuk seperti kendi, yaitu memiliki bagian bawah yang lebar tetapi sempit
di bagian kepalanya dan digunakan untuk tempat zat yang
akan dititrasi larutan. Corong biasanya terbuat dari gelas tahan
panas namun ada juga yang terbuat dari plastik dan memiliki
bentuk seperti gelas bertangkai, terdiri dari corong dengan tangkai panjang dan
pendek. Digunakan untuk membantu memasukkan
cairan ke dalam suatu wadah dengan mulut sempit, seperti botol, labu ukur,
buret dan sebagainya. Pipet tetes adalah alat berbentuk tabung dengan diameter
yang sangat kecil memiliki ujung yang agak runcing, sedangkan pada ujung
lainnya terdapat sejenis alat penghisap yang terbuat dari karet. Digunakan
untuk memindahkan atau menghisap larutan atau sampel dari beaker glass atau
botol sampe kedalam gelas ukur. Pipet volume, berupa pipa kurus dengan skala di
sepanjang dindingnya, berbentuk silinder pendek yang pada
kedua ujungya disambung denpa pipa panjang yang lebih kecil diametemya, berfungsi untuk memindahkan cairan
dari tempat satu ke tempat lainnya dengan ketelitian yang tinggi, dengan tingkat
ketelitian hingga 0,01 mm. Pipet gondok terbuat dari gelas dengan bagian
tengahnya membesar dan ujungnya meruncing. Dipakai untuk mengambil larutan
dengan volume tertentu dengan tepat. Gelas ukur adalah alat yang terbuat dari
bahan gelas dan memiliki berbagai ukuran, mulai dari 10 ml sampai 2 L.
Berbentuk tabung, hampir sama seperti tabung reaksi, tapi memiliki alas yang
luas sehingga dapat ditegakkan. Kegunaannya untuk mengukur volume suatu larutan
dengan ketelitian yang tinggi yaitu hingga 1 ml. Alat ini tidak boleh digunakan
untuk mengukur larutan atau sampel yang panas. Rubbel bub adalah alat berbentuk
bulat seperti bola dan terbuat dari karet, pada bagian bawahnya terdapat lubang
untuk memasukkan pipet yang akan digunakan, dan pada bagian samping terdapat
sejenis keran yang diberi tanda berupa (↑) dan (↓). Pada tanda (↑) berfungsi
untuk menghisap larutan, sedangkan tanda(↓) berfungsi untuk mengeluarkan
larutan. Cawan adalah sebuah wadah yang bentuknya bundar dan
terbuat dari plastik
atau kaca yang digunakan untuk
wadah menguapakan
cairan pada suhu yang tidak terlalu tinggi, misalnya
didalam oven,
diatas tangs
air, uap, pasir dan
sebagainya. Cawan mempunyai
kapasitas 4 hingga 2900 ml. Sebagian dari cawan tidak tahan pada pemanasan suhu
diatas 300 0C.
Beberapa bahan diantaranya: Potassium
iodine atau disebut juga kalium iodine memiliki rumus molekul KI. Potassium
iodine berbentuk kristal padat berwarna putih. Potassium iodine bersifat racun
(toksik) dan tidak stabil jika terkena cahaya. Potassium permanganat atau
disebut juga kalium permanganat memiliki rumus molekul KMnO4.
Potassium permanganat berbentuk kristal padat berwarna hitam. Potassium
permanganat bersifat racun dan merupakan oksidator kuat. Besi (III) klorida
memiliki rumus molekul FeCl3, berbentuk padat dan berwarna cokelat
kekuningan. Bersifat racun dan mudah teroksidasi oleh udara. Natrium hidroksida
memiliki rumus molekul NaOH, berbentuk kristal padat dan berwarna putih.
Natrium hidroksida merupakan basa kuat, bersifat racun (toksik) dan korosif. Larutan
benedict merupakan larutan untuk penguji reduksi gula dan protein. Larutan
Benedict terdiri dari CuSO4, Na2CO3, (Na3C6O7
)3H2O. Larutan ini berwarna biru gelap
dan bersifat racun (toksik). Asam asetat memiliki rumus molekul CH3COOH,
berupa cairan dan berwarna bening. Asam asetat merupakan asam lemah dan
bersifat racun (toksik). Asam sulfat memiliki rumus molekul H2SO4,
berupa cairan dan berwarna bening. Asam sulfat merupakan asam kuat, bersifat
racun (toksik) dan korosif. Etanol memiliki rumus molekul C2H5O,
berupa cairan dab berwarna bening. Etanol bersifat flammable (mudah terbakar)
dan volatile (mudah menguap). Asam klorida memiliki rumus molekul HCl, berupa
cairan dan berwarna bening. Asam klorida merupakan asam kuat, bersifat racun
(toksik) dan korosif. Chloroform memiliki rumus molekul CHCl3, berupa cairan
dan berwarna bening. Chloroform bersifat racun (toksik) dan non polar.
G. KESIMPULAN
DAN SARAN
1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan, dapat disimpulkan bahwa
terdapat bermacam-macam alat dan bahan dalam praktikum kimia, yang harus
dikethui sebelum melakukan paraktikum, demi kelancaran praktikum. Pada umumnya,
alat-alat terbuat dari gelas dengan berbagai bentuk sesuai fungsinya
masing-masing. Berdasarkan hasil pengamatan, alat-alat yang diamati adalah
alat-alat yang berperan dalam pembuatan larutan. Bahan-bahan kimia pada umumnya
bersifat toksik, berbentuk padat atau cair dan berwarna bening.
2. Saran
Berhati-hatilah
ketika praktikum sedang
berjalan. Kenalilah cara panggunaan alat terlebih dahulu, mengingat alat-alat
yang ada didalam laboratorium sebagian besar terbuat dari gelas sehingga sangat
mudah pecah maupun rusak, serta kenali pula bahan-bahan yang akan digunakan
mengingat banyak bahan yang berbahaya dan beracun, untuk menjaga dari hal–hal
yang tidak diinginkan pada saat praktikum belangsung, demi kelancaran
pelaksanaan praktikum.
DAFTAR ISI
Ibnu. 1976. Analisa
Kimia Kuantitatif. Jakarta : Erlangga
Neilands.
1990. Analisa Kimia. Jakarta : Erlangga.
Purba, Michael. 2007. KIMIA (1A) untuk kelas X. Jakarta:
Erlangga
ACARA II
PEMBUATAN
LARUTAN DENGAN BERBAGAI KONSENTRASI
A. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
Tujuan : - Untuk mempraktikkan dan
mempelajari cara pembuatan larutan dengan konsentrasi tertentu dari bahan padat seperti NaOH pelet.
-Untuk
membuat berbagai konsentrasi larutan dari larutan induk yang telah diketahui
konsentrasinya.
Hari
/ Tanggal : Selasa/ 11 Desember 2012
Waktu
/Tempat : 14.00 – 16.00 WITA / Laboratorium Kimia
Fakultas
MIPA Universitas Mataram
B.
LANDASAN TEORI
Setiap zat padat, cair ataupun gas memiliki
kemampuan melarut berbeda di dalam suatu pelarut. Perbedaan wujud ini memberi
indikasi bahwa pelarutan harus menggunakan cara-cara tertentu. Rencana dan
prosedurnya pun berkembang sesuai dengan sifat melarut dan sifat
percobaan/analisis yang diterapkan dan sifat zat yang terlibat (Darmadi, dkk.
1994).
Sifat analisis atau eksperimen yang diterapkan
menuntut kesediaan pereaksi tertentu agar analisis tersebut memberikan hasil
yang tepat dan teliti. Berarti jenis peralatan dan spesifikasi zat yang dipilih
pun harus memenuhi persyaratan agar diperoleh hasil sediaan yang mendukung
tujuan analisis. Dengan demikian, pembuatan sediaan pereaksi berupa larutan
akan menuntut cara atau teknik pembuatan
dengan prosedur tersendiri bergantung pada sifat pembentukan larutan itu
(Dahar, R.W.2002)
Konsentrasi Larutan Dapat Dinyatakan dalam Berbagai
Satuan. Konsentrasi (kepekatan) suatu larutan dapat dinyatakan dalam berbagai
satuan. Konsentrasi larutan menyatakan banyaknya zat terlarut dalam suatu
larutan. Jika zat yang terlarut sedikit sedangkan pelarutnya sangat banyak,
maka larutan itu mempunyai konsentrasi rendah. Jika zat terlarut banyak,
pelarutnya sedikit, maka larutan itu mempunyai konsentrasi tinggi (Tim Kimia SMA.1993).
Beberapa
konsentrasi larutan :
Kemolaran
menyatakan banyaknya mol zat terlarut dalam satu liter larutan :
Molaritas
(M) menyatakan jumlah mol zat terlarut dalam tiap liter larutan atau jumlah
milimol terlarut dalam tiap militer larutan.
Dirumuskan :
Rumus pengenceran larutan : V1.M1=V2.M2
V1 = Volume larutan mula-mula
M1= Konsentrasi mula-mula
V2 = Volume setelah diencerkan
M2= Konsentrasi setelah
diencerkan
Kemolaran (M) menyatakan banyaknya mol zat dalam 1
kg zat pelarut
Molalitas menyatakan jumlah mol zat terlarut dalam
1000 gram pelarut.
Dirumuskan :
m = molalitas
gram
= Berat zat terlarut
Mr = Massa rumus zat terlarut
p = berat pelarut (Tim Kimia SMA. 1993)
C. ALAT
DAN BAHAN
ALAT:
Ø
Timbangan analitik
Ø
Sendok
Ø
Gelas arloji
Ø
Labu takar 50 ml
Ø
Pipet tetes
Ø
Gelas kimia 50 dan 150 ml
Ø
Pipet ukur/pipet volume
Ø
Pipet gondok
Ø
Botol semprot
BAHAN:
Ø
NaOH Pelet
Ø
Aquades
Ø
Kertas saring
Ø
Larutan HCL 1 M
D.
CARA KERJA
1. SKEMA
KERJA PEMBUATAN LARUTAN
DENGAN KONSENTRASI TERTENTU DARI BAHAN PADAT
Tabung reaksi I Tabung reaksi II Tabung reaksi III
50 ml NaOH 1 M 50 ml NaOH 0,75 M 50 ml NaOH 0,5 M
- Dihitung
gr NaOH yg dibutuhkan
- Ditimbang
gr NaoH
|
Hasil
+ Ditambahkan aquades
- Dimasukkan larutan ke
dalam labu takar dengan tetap menambah
aquades hingga tanda batas
Hasil
2.
SKEMA KERJA PEMBUATAN LARUTAN DENGAN
BERBAGAI KONSENTRASI YANG BERBEDA-BEDA DARI LARUTAN INDUK (HCL)
Tabung reaksi I Tabung
reaksi II Tabung reaksi III
25 ml
HCL 0,5M 20 ml HCL 0,4M 10 ml HCL
0,2M
- Dihitung ml HCl (larutan induk)
Hasil
- Diambil ml HCl sesuai hasil
perhitungan
- Dimasukkan ke dalam labu ukur
- Diencerkan dengan air
Hasil
E.
HASIL PENGAMATAN
a. Pembuatan
larutan dengan konsentrasi tertentu dari bahan padat
|
ml
Larutan
|
Molaritas
NaOH
|
Gram
NaOH
|
|
50
ml
50
ml
50
ml
|
1
M
0,75
M
0,5
M
|
2
gr
1,5
gr
1
gr
|
b.
Pembuatan larutan dengan berbagai
konsentrasi yang berbeda-beda dari larutan induk
|
Larutan
yang akan dibuat
|
ml
HCL yang dibutuhkan
|
|
25 ml HCL 0,5M
20 ml HCL 0,4M
10 ml HCL 0,2M
|
12,5
ml
8
ml
2
ml
|
F.
ANALISIS DATA
(Menghitung gram masing-masing larutan NaOH)
·
Larutan 50 ml NaOH 1M (Mr = 40)
M =
n
= M x V n =
=1 x 0,05 (L) gr
= n x Mr
= 0,05 x 40 = 2 gr
·
Larutan 50 ml NaOH 0,75M (Mr = 40)
M
=
n = M x V
n =
= 0,75 x 0,05
(L) gr = n x Mr
= 0,0375 = 0,375 x 40 = 1,5 gr
·
Larutan 50 ml NaOH 0,5M (Mr = 40)
M =
n = M x V n =
= 0,5 x 0,05 (L) gr = n x Mr
= 0,025 = 0,025 x 40 = 1 gr
(Menghitung
ml HCL 1M dengan rumus pengeceran)
·
25 ml HCL 0,5 M
V1.M1 = V2.M2
V1. M1= 25 ml x
0,5 ml
V1
= 12,5 ml
·
20 ml HCL 0,4 M
V1.M1 = V2.M2
V1. M1= 20 ml x 14
ml
V1
= 8 ml
·
10 ml HCL 0,2 M
V1.M1 = V2.M2
V1. M1= 10 ml x
0,2 ml
V1
= 2 ml
G.
PEMBAHASAN
Pembuatan larutan dengan konsentrasi tertentu dari
bahan padat dalam hal ini adalah NaOH
pellet, memerlukan perhitungan yang
tepat. Diantaranya adalah perhitungan mengenai berapa banyak (gr) padatan NaOH pellet yang dibutuhkan untuk dapat
membuat larutan dengan konsentrasi tertentu. Untuk mengetahui berapa gr yang
dibutuhkan, maka harus diaplikasikan penerapan rumus molaritas. Dari perkalian Volume (V) dan Molaritas (M) yang
diketahui dapat di temukan berapa nilai mol (n) NaOH. Kemudian dari nilai mol
(n) yang didapatkan, dapat dicari berapa gr NaOH yang dibutuhkan yaitu dengan
perkalian mol (n) dan masa atom relative (Mr).
Dalam pembuatan larutan dengan konsentrasi tertentu
dari bahan padat kita harus mengetahui berapa Mr dari padatan tersebut (Mr
NaOH). Dalam percobaan ini dibuat tiga
larutan dengan konsentrasi berbeda, yaitu:
50 ml1M, 50 ml 0,75M, dan 50 ml 0,5M. Setelah melakukan perhitungan,
ternyata gr NaOH yang diperlukan untuk membuat larutan dengan konsentrasi
tersebut adalah 2 gr, 1,5 gr, 1 gr. Setelah mendapatkan nilai gr, kemudian
ditimbang dengan gelas arloji padatan NaOH pellet yang dibutuhkan sesuai gr
larutan. Agar terbentuk larutan, NaOH yang telah ditimbang, dilarutkan dengan
aquades lalu dimasukkan ke dalam labu takar dengan tetap menambah aquades
hingga tanda batas pada labu takar menunjukkan tanda cekung. Terakhir, labu
takar dikocok agar NaOH larut sempurna. Maka terbentuklah larutan NaOH dengan
berbagai konsentrasi tertentu dari bahan padat (NaOH Pellet).
Tidak sama seperti percobaan pembuatan larutan
dengan berbagai konsentrasi tertentu dari bahan padat, yang terlebih dahulu
menghitung nilai gr, pada percobaan membuat berbagai larutan dengan konsentrasi
yang berbeda dari larutan induk, yang harus dicari terlebih dahulu adalah berapa
ml (volume) larutan induk yang diperlukan untuk dapat membuat larutan dengan
berbagai konsentrasi tertentu. Pada percobaan ini diterapkan rumus pengenceran yaitu:
V1
M1= V2 M2
dimana
angka 1 menunjukkan Volume (V) dan Molaritas (M) larutan induk, sedangkan angka
2 menunjukkan Volume (V) dan Molaritas (M) larutan yang akan dibuat. Pada
percobaan ini akan dibuat larutan dengan konsentrasi 25 ml HCL 0,5 M, 20 ml HCL
0,4 M, dan 10 ml HCL 0,2 M. Setelah
dilakukan perhitungan, didapatkan masing-masing 12,5 ml, 8 ml, dan 2 ml HCL 1 M yang diperlukan untuk membuat larutan
tersebut. Setelah didapatkan nilai ml HCL 1 M,
maka diambil ml HCL 1 m sesuai yang
dibutuhkan untuk kemudian di masukkan ke dalam labu ukur lalu diencerkan
dengan air sampai tanda batas. Maka
terbentuklah larutan dengan berbagai konsentrasi yang berbeda dari larutan
induk.
H.
KESIMPULAN &
SARAN
1. KESIMPULAN:
Berdasarkan hasil percobaan, dapat
diketahui bahwa untuk membuat larutan dari padatan (NaOH pelet), harus dihitung
terlebih dahulu nilai gram dari konsentrasi yang akan dibuat dengan rumus
molaritas. Kemudian untuk menghitung ml (volume) dari larutan induk, maka harus
digunakan rumus pengenceran (V1.M1= V2.M2)
dan untuk mengencerkan larutan digunakan aquades.
2. SARAN:
Pada percobaan pembuatan larutan dengan
berbagai konsentrasi dari bahan padatan, diperlukan kehati-hatian dalam
menimbang berapa gr padatan NaOH pellet yang dibutuhkan untuk membuat larutan.
Karena jika hasil penimbangan dan perhitungan (rumus molaritas) tidak sama maka tidak akan sesuai dengan
konsentrasi larutan tertentu yang akan
dibuat. Selain itu, pada saat menuangkan aquades ke dalam labu takar, harus
diperhatikan tanda batasnya. Jika telah terbentuk tanda cekung pada tanda batas
maka tidak perlu menuang aquades lagi.
DAFTAR
PUSTAKA
Dahar, R.W.2002. Kimia Inti. Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal
Pendidikan Tinggi, Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kerja.
Darmadi,
dkk. 1994. Ilmu kimia. Edisi 2;.
Jakarta: Erlangga.
Tim
Penyusun.1993. Kimia SMA Untuk Kelas 2 Semester 4. Kandang Sari.
ACARA
III
STOIKIOMETRI REAKSI PENGENDAPAN
A.
PELAKSANAAN PRAKTIKUM
Tujuan
: Untuk mempraktikkan bagaimana cara memisah
suatu endapan hasil suatu reaksi dengan teknik penyaringan dan menghitung
persentase endapan yang dihasilkan berdasarkan reaksi stoikiometrinya.
Hari/Tanggal :
Selasa/4 Desember 2012
Waktu
/tempat : 14.00-16.00
WITA/ Laboratorium Kimia Fakultas MIPA Universitas Mataram.
B. LANDASAN TEORI
Kata stoikiometri berasal dari kata yunani “soichon” yang
berarti unsure dan “metron” yang berarti pengukuran. Tepatnya disini adalah
penentuan perbandingan masa unsure-unsur dan senyawa-senyawanya. Reaksi kimia menyebabkan tarbentuknya materi baru. Apakah
masa materi berubah
akibat reaksi kimia? jawaban
atas pertanyaan itu di kemukakan oleh kimiawan prancis, antonie
laurent lavoisier,
berdasarkan percobaan yang dilakukannya
dengan cara menimbang massa materi sebelum dan sesudah berlangsungnya reaksi
kimia , ia
berkesimpulan bahwa massa materi sebelum dan sesudah reaksi
kimia berlangsung ternyata sama. Kesimpulan lavoisier tersebut dikenal sebagai Hukum
Kekekalan Massa,yang berbunyi “massa
materi sebelum dan sesudah reaksi kimia selalu tetap” (Retnowati.
2008)
Stoikiometri dalam reaksi salah satunya dapat
ditemui pada reaksi pengendapan (purba, 2006). Salah satu jenis reaksi yang
umumnya berlangsung dalam larutan berair adalah reaksi pengendapan
(precipitation reaction) yang cirinya adalah terbentuk produk yang tak larut
atau endapan. Endapan (precipitate) adalah padatan tak larut yang terpisah dari
larutan. Reaksi pengendapan biasanya melibatkan senyawa-senyawa ion (Chang.
2004).
Tujuan utama dari reaksi pengendapan adalah untuk
memisahkan suatu fase padat murni dalam bentuk yang kompak dan rapat yang dapat
di saring dengan mudah. Zat pengendapan yang encer ditambahkan dengan
perlahan-lahan dan sambil diaduk. Dalam teknik yang dikenal sebagai pengendapan
dari larutan homogeni, zat pengendap tidak ditambahkan sebagai zat pengendap
itu sendiri, melainkan dibentuk dengan perlahan-lahan dari reaksi kimia
homogeni didalam larutan itu. Dengan demikian, endapan dibentuk pada kondisi
yang tak mengandung efek konsentrasi yang tak dikehendaki, sesuatu yang akan
terelakkan terkait dengan proses
pengendapan konvensional (Vogel:1994). Endapan akan rapat dan mudah di saring;
kopresipitasi berkurang sampai minimum. Endapan dan larutan dapat dipisahkan menggunakan kertas saring
dan unuk menghitung persentase endapan yang dihasilkan, dapat dihitung
berdasarkan stoikiometrinya (Purba. 2006).
C. ALAT DAN BAHAN
Alat:
Ø Tabung
reaksi
Ø Timbangan
analitik
Ø Corong
Ø Erlenmeyer
Ø Water
bath
Bahan:
Ø Larutan
Pb asetat
Ø Larutan
H2SO4 1 M
Ø Kertas
saring
Ø Aquades
D.
CARA KERJA
Tabung reaksi
+ 5 ml Pb (CH3COO)2
+ 5ml
H2SO4
Hasil
- Dilipat
kertas saring menjadi ¼
- Dibasahi
dinding corong
- Dituangkan
larutan ke dalam Erlenmeyer dengan menggunakan kertas saring
yang dilekatkan pada corong
- Tabung
reaksi dibilas dengan aquades
Hasil
- Kertas
saring dan endapan dikeringkan
- Kertas
saring dan endapan ditimbang
Hasil
E. HASIL PENGAMATAN
Persamaan
reaksi pengendapan
Pb(CH3COO)2
(l) + H2SO4(l) PbSO4(s) + 2 CH3COOH(l)
Endapan
yang terbentuk adalah PbSO4
Warna
zat sebelum reaksi : Bening
Warna
zat setelah reaksi : Putih pekat
Warna
endapan : Putih pekat
Berat endapan : 0,67 gr
F. ANALISIS DATA
Persentase
hasil berdasarkan stoikiometrinya
a. Secara
teori
-Konsentrasi Pb(CH3COOH)2
= 1 M
Volume = 5 ml
mmol
= M x V
= 1
x 5
= 5 mmol
-Konsentrasi H2S04 = 1
M
Volume = 5 ml
mmol
= M x V
= 1
x 5
= 5 mmol
Pb(CH3COOH)2 +
H2SO4 PbSO4 + 2 CH3COOH
Mula-mula 5 mmol
5mmol -
Bereaksi 5 mmol 5 mmol 5
mmol
Sisa - - 5 mmol -
Mmol
PbS04 = 5 mmol
= 0,005 mol
Mol
(n) = gr/ Mr
gr = mol x Mr PbS04
=0,005
x 303
=
1,515 gr
b. Secara
percobaan
-Berat kertas saring = 1,08 gr
-Berat kertas saring+ endapan = 1,75 gr
-Berat endapan = 1,75-1,08
=0,67
gr
%
Rendemen =
=
=
44,22%
G. PEMBAHASAN
Endapan PbS04
dihasilkan dari percampuran antara Pb(CH3COO)2
dan H2S04. Sebelum terbentuk endapan, warna larutan
berwarna bening. Setelah terbentuk
endapan, warna larutan berubah menjadi putih pekat sesuai dengan warna
endapan yang terdapat di dasar larutan.
Setelah terbentuk
endapan, larutan harus disaring agar terpisah dari endapannya. Teknik penyaringan ini menggunakan media
kertas saring yang dilekatkan pada corong di atas erlenmeyer. Sebelum disaring,
kertas saring dilipat lalu dibasahi aquades agar melekat pada dinding corong
sehingga memudahkan dalam memasukkan larutan ke dalam erlenmeyer. Proses
penyaringan akan memisahkan larutan dengan endapannya. Endapan akan tertinggal
pada kertas saring sedangkan larutan akan ikut masuk ke dalam Erlenmeyer.
Sebelum proses penyaringan berakhir, tabung reaksi dibilas dengan aquades
kemudian dituangkan kembali pada kertas saring. Hasilnya akan tetap
meninggalkan endapan pada kertas saring. Setelah
proses penyaringan endapan, endapan dan kertas saring harus dikeringkan untuk
kemudian ditimbang. Proses penimbangan bertujuan agar dapat diketahui berat
endapan+kertas saring, berat endapan,
dan berat kertas saring. Dapat dihitung berapa persentase endapannya
dengan stoikiometri. Dalam perhitungan ini, digunakan dua metode yaitu secara
teori dan secara percobaan. Secara
teori, masing-masing dihitung nilai mmol larutan Pb(CH3COOH)2 dan H2S04. Nilai mmol
ini didapatkan dari perkalian Volume (V) dan Molaritas (M) kedua larutan.
Kemudian untuk menghitung mmol endapan (PbS04), terlebih dahulu
harus diketahui reaksi kesetimbangannya. Setelah mendapatkan nilai mmol PbS04,
kemudian dikonversikan ke nilai mol (n) untuk dapat dihitung nilai gr
endapannya. Nilai gr didapatkan dari perkalian mol dan Mr PbS04. Secara percobaan
didapatkan dari hasil penimbangan diantaranya: berat kertas saring 1,08 gr,
berat kertas saring+endapan 1,75 gr, dan berat endapan 1,75 gr. Kemudian dapat
dihitung persentase endapan dengan perbandingan gr endapan secara percobaan
(penimbangan) per endapan secara teori dikalikan dengan 100%. Maka didapatkan
persentase endapannya.
H. KESIMPULAN
DAN SARAN
1.
Kesimpulan
Percampuran antara Pb(CH3COO)2 dan H2S04
menghasilkan suatu endapan yaitu PbS04. Endapan dapat dipisahkan dengan larutan
melalui kertas saring. Secara teori dan percobaan didapatkan bahwa terdapat
perbedaan berat endapan yang dihasilkan. Adapaun persentase hasil berdasarkan
hasil, didapatkan % rendemen yaitu sebanyak 44,82%.
2.
Saran
Dalam pengambilan
larutan baik Pb(CH3COO)2 dan H2S04, harus
dilakukan dengan teliti dan hati-hati
agar larutan yang diambil sesuai dengan konsentrasi (ml) yang dibutuhkan. Pastikan kertas saring dan endapan telah
kering benar sebelum dilakukan penimbangan.
DAFTAR PUSTAKA
Chang, Raymond. 2004. Kimia
Dasar : Konsep-konsep Inti. Jakarta:Erlangga
VOGEL.
1994.Kimia Analisis Kuantitatif
Anorganik. Jakarta:EGC.
Purba Michael. 2006. Kimia Sma Kelas IX. Jakarta: Erlangga
ACARA
IV
MENGHITUNG DAN MENGUKUR PH ASAM DAN BASA KUAT
A. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
Tujuan : Menghitung dan mengukur pH
berbagai konsentrasi larutan asam dan basa kuat
Hari/Tanggal : Selasa/11 Desember 2012
Waktu/Tempat : 14.00-16.00 WITA/Laboratorium Kimia Fakultas MIPA Universitas Mataram
B.
LANDASAN TEORI
Ada beberapa definisi mengenai asam
dan basa. Menurut Svante August Arrhenius, asam adalah zat yang dilarutkan dalam
air akan menghasilkan ion H+ sedangkan basa adalah zat yang jika
dilarutkan dalam air akan menghasilkan ion OH-. Menurut Johannes Bronsted dan Thomas Lowry,
asam adalah zat yang dapat memberikan proton (H+) pada zat lain
(donor proton), sedangkan basa adalah zat yang dapat menerima proton (H+)
dari zat lain (akseptor proton). Menurut
Gilbert Newton Lewis, suatu zat
termasuk asam jika dapat memberi pasangan elektron dan tergolong basa jika
dapat memberi pasangan elektron (Sandri Justiana, dkk, 2010). Konsentrasi
ion H+ dan ion OH- hasil ionisasi air sangat kecil, maka
untuk memudahkannya digunakan notasi pH dan pOH. Notasi pH menyatakan derajat
keasaman suatu larutan. (Budiyanto, 2011).
S.P.L Sorensen, seorang ahli kimia dari Denmark,
yang mengusulkan konsep pH (power of Hydrogen) untuk menyatakan konsentrasi ion H+,
yaitu dengan negatif logaritma konsentrasi ion H+. Secara matematika
diungkapkan dengan persamaan pH = - log [H+]. Jika [H+] =
1 x 10-n, maka pH = n. Jika [H+] = A x 10-n,
maka pH = n - logA (Purba, 2007).
Sistem asam basa suatu larutan dapat diamati dari
nilai pH. Larutan asam mempunyai nilai pH<7, larutan netral mempunyai nilai
pH=7, sedangkan larutan basa mempunyai nilai pH>7. Semakin kecil nilai pH,
sifat zat semakin asam. Sebaliknya, semakin besar nilai pH, sifat zat semakin
basa (Wibisono, 2002).
C. ALAT DAN BAHAN
Alat:
Ø Kertas
pH universal
Ø Labu
ukur 50 ml
Ø Pipet
tetes
Bahan:
Ø NaOH
pelet
Ø HCl
1 M
Ø Aquades
Ø Kertas
pH universal
D.
SKEMA KERJA
a. LARUTAN
BASA (NaOH)
50 ml NaOH 0,1 M 50 ml NaOH 0,75 M 50 ml NaOH 0,5 M
- pH
diukur dengan kertas universal
Hasil
b. LARUTAN
ASAM (HCl)
50 ml NaOH 0,1 M 50 ml NaOH 0,75 M 50 ml NaOH 0,5 M
- Mengecek
pH dengan kertas universal
Hasil
E.
HASIL PENGAMATAN
|
No
|
Larutan
yang Diuji
|
pH
Teoritis
(Hasil
Perhitungan)
|
pH
Hasil Percobaan
|
|
1
|
50
ml NaOH 1 M
|
14
|
14
|
|
2
|
50
ml NaOH 0,75 M
|
13,87
|
14
|
|
3
|
50
ml NaOH 0,5 M
|
13,7
|
14
|
|
4
|
25
ml HCl 0,5 M
|
0,3
|
1
|
|
5
|
20
ml HCl 0,4 M
|
0,4
|
1
|
|
6
|
10
ml HCl 0,2 M
|
0,7
|
2
|
F.
ANALISIS DATA
a. LARUTAN
BASA (NaOH)
·
50 ml NaOH 1 M
pOH = - log [OH-]
pH = 14 - pOH
= - log 1 =
14 - 0
= 0 = 14
·
50 ml NaOH 0,75 M
pOH = - log [OH-]
pH = 14 - pOH
= - log [75x10-2] = 14 - 0,13
= 2 - log 75
= 13,87
= 2 - 1,87
= 0,13
·
50 ml NaOH 0,5 M
pOH = - log [OH-]
pH = 14 - pOH
= - log [5x10-1] = 14 - 0,3
= 1 - log 5 = 13,7
= 1 - 0,7
= 0,3
b. LARUTAN
ASAM (HCl)
·
25 ml HCl 0,5 M
pH
= - log [H+]
= - log [5x10-1]
= 1 - log 5
= 0,3
·
20 ml HCl 0,4 M
pH
= - log [H+]
= - log [4x10-1]
= 1 - log 4
= 1 - 0,7
= 0,3
·
10 ml HCl 0,2 M
pH = - log [H+]
= - log [2x10-1]
= 1 - log 2
= 1 - 0,3
= 0,7
G.
PEMBAHASAN
Sistem asam-basa suatu larutan dapat diamati dari
nilai pH. Larutan basa mempunyai pH>7, larutan netral mempunyai nilai pH=7,
larutan asam menpunyai nilai pH<7. Semakin kecil nilai pH, sifat zat semakin
asam, begitu juga sebaliknya.
Dalam percobaan ini dibuat larutan asam (HCl) dan
basa (NaOH) dengan konsentrasi yang berbeda-beda. Langkah pertama untuk membuat
larutan 50 ml NaOH 1 M adalah menghitung berapa gram NaOH yang harus ditimbang
kemudian dilarutkan dalam labu takar 50 ml. Untuk mengetahui massa NaOH yang diperlukan
dapat digunakan rumus:
N = M x V
= M x V
gr = M x V x Mr
gr = 1 x 0,05 x 40
gr = 2
Jadi, NaOH yang diperlukan sebanyak 2 gram. Setelah
dihitung massa NaOH yang dibutuhkan, masukkan NaOH ke dalam gelas kimia dan timbanglah
berat NaOH tersebut berdasarkan perhitungan yakni 2 gram dengan timbangan
analitik. Caranya terlebih dahulu meletakkan gelas kimia di timbangan dan
menolkannya lalu memasukkan NaOH ke dalam gelas kimia sehingga yang tertimbang
hanya massa NaOH saja. NaOH hasil timbangan tersebut kemudian ditambahkan
sedikit aquades hingga larut lalu dimasukkan ke dalam labu takar 50 ml,
kemudian ditambahkan aquades lagi sedikit demi sedikit sampai tanda batas untuk
melarutkannya. Hal yang serupa juga dilakukan untuk membuat dua larutan NaOH yang lain.
Selanjutnya kita membuat larutan HCl dengan
konsentrasi dan volume yang berbeda-beda dari larutan induk HCl 1 M. Langkah
pertama untuk membuat larutan 25 ml HCl 0,5 M adalah dengan menghitung volume HCl
1 M yang akan digunakan dengan menggunakan rumus pengenceran:
M1
x V1 = M2 x V2
1 x V1 = 0,5 x 25
V1 = 12,5 ml
Jadi, untuk membuat
larutan 25 ml HCl 0,5 M diperlukan 12,5 ml HCl 1 M. Kemudian pipetlah 25 ml
larutan HCl tersebut dengan pipet ukur. Masukkan ke dalam labu ukur dan
encerkan dengan aquades sampai tanda batas. Pengenceran dilakukan
berlahan-lahan, setelah mendekati tanda batas gunakan pipet tetes sehingga air
yang ditambahakan tidak melebihi tanda batas. Hal yang sama juga dilakukan untuk
membuat larutan 20 ml HCl 0,4 M dan larutan 10 ml HCl 0,2 M.
Setelah semua larutan
jadi, celupkan pH stick ke dalam larutan 25 ml HCl 0,5 M dan tentukan pH
larutan dengan rumus:
pH
= - log [H+]
= - log [5x10-1]
=
1 - log 5
=
0,3
Hal yang sama juga
dilakukan pada larutan HCl yang lain. Sedangkan untuk menentukan pH larutan 50 ml
NaOH 1 M menggunakan rumus:
pOH
= - log [OH-] pH = 14 -
pOH
= - log 1 = 14 - 0
=
0 = 14
Lakukan
hal yang sama pada larutan NaOH yang lain.
H. KESIMPULAN DAN SARAN
1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan, dapat diketahui pH
masing-masing larutan asam (HCl) dan basa (NaOH) dengan cara teoritis dan
percobaan. Terdapat perbedaan hasil perhitungan dan percobaan pada pengukuran
pH, meskipun perbedaan tersebut tidaklah terlalu jauh, masih pada rentang
tingkat keasaman ( HCl<7) dan basa (NaOH>7). Perbedaan tersebut
kemungkinan dikarenakan kekurangtepatan menentukan hasil pembacaan pH pada saat
percobaan.
2. Saran
Untuk mendapatkan hasil pembacaan pH larutan yang
lebih akurat sebaiknya dengan menggunakan pH meter digital.
DAFTAR
PUSTAKA
Budiyanto.
2011. Penentuan pH Asam Basa. Diperoleh 14 Desember 2012, dari Materi Pelajaran SMA: http://budisma.web.id
Purba, M. 2007. Kimia 2 untuk SMA Kelas XI. Jakarta:
Erlangga.
Sandri Justiana, dkk. 2010. Chemistry 2 For Senior High
School Year XI. Bogor: Yudhistira.
Wibisono, L. 2002. Intisari Kimia Umum. Jakarta:
Hipokrates.
ACARA
V
IDENTIFIKASI KARBOHIDRAT, PROTEIN, DAN LEMAK
A.
PELAKSANAAN
PRAKTIKUM
Tujuan : Mengidentifikasi
sifat reduksi dan non-reduksi Karbohidrat dan reaksi hydolisa, disakarida dan polisakarida.
Uji sifat-sifat protein termasuk denaturasi, kelarutan, pengendapan serta uji
lemak meliputi kelarutan serta reaksi penyabunan.
Hari/Tanggal : Selasa/4 Desember 2012
Waktu
dan Tempat : 14.00-16.00 WITA/Laboratorium Kimia Fakultas MIPA Universitas
Mataram.
B. LANDASAN TEORI
Simpanan karbohidrat
yang paling banyak dan satu-satunya yang dapat diisi lagi terdapat dalam dunia
tumbuhan, di mana simpanan tersebut meliputi sebagian besar berat kering jaringannya.
Sebaliknya pada jaringan hewan mengandung sejumlah kecil karbohidrat, yang pada manusia
karbohidrat tersebut kurang dari 1 % (Montgomery, dkk, 1994).
Karbohidrat ialah
polihidroksialdehida, polihidroksiketon, atau zat yang dapat memberikan senyawa
seperti itu jika dihidrolisis. Karbohidrat biasanya digolongkan menurut
strukturnya sebagai monosakarida, disakarida, dan polisakarida. Monosakarida
adalah karbohidrat paling sederhana, tidak dapat dihidrolisis menjadi
karbohidrat yang lebih sederhana. Semua monosakarida adalah zat padat berwarna
putih yang mudah larut dalam air. Larutan monosakarida bermuatan positif dengan
pereaksi Fehling atau Benedict maupun Tollens. Beberapa monosakarida
diantaranya Glukosa, Fruktosa, dan Ribosa dan 2-Deoksiribosa. Disakarida dapat
dihidrolisis menjadi dua monosakarida. Disakarida terbentuk dari dua molekul
monosakarida. Ikatan yang menghubungkan unit-unit monosakarida dalam
disakarida, juga dalam polisakarida disebut ikatan glikosida. Disakarida
terpenting adalah sukrosa, maltose, dan laktosa. Polisakarida dapat dihidrolisis menjadi banyak molekul
monasakarida.polisakarida terpenting adalah amilum, glikogen, dan selulosa.
Semua polisakarida sukar larut dalam air dan tidak mereduksi pereaksi fehling,
benedict maupun tollens (Hart, 2003).
Gula pereduksi yaitu
monosakarida dan disakarida (kecuali sukrosa) dapat ditunjukkan dengan pereaksi
fehing dan beneduct. Gula pereduksi yang bereaksi dengan fehling atau benedict
akan menghasilkan endapan berwarna merah bata(Cu20). Polisakarida
yang penting, yaitu amilum, glikogen, dan selulosa dapat ditunjukkan dengan
larutan iodine, suspense amilum dengan larutan iodine member warna biru ungu.
Suspense glikogen member warna coklat merah. (Anwar, 2009).
Menurut teori, proses penambahan
asam amino pada rantai peptida dapat berlangsung terus. Jika banyaknya residu
asam amino lebih besar dari sekitar 100, peptida dinamakan protein. Protein
dapat membentuk zwitter ion dalam larutan berair seperti halnya asam amino.
Selain itu, menurut Henry Bence-Jones,seorang dokter Inggris mengatakan bahwa,
protein yakni rantai yang ringan dari satu spesies antibodi yang dihasilkan
oleh sel myeloma,senyawa ini terdeteksi dalam kemih penderita myeloma ganda (Montgomery,
dkk, 1994).
Protein dapat diendapkan
dengan penambahan alkohol. Pelarut organik akan mengurangi konstanta
dielektrika dari air,sehingga kelarutan protein berkurang,dan juga karena alkohol
akan berkompetisi dengan protein terhadap air (Hart, 2003).
Protein juga mudah terdenaturasi, denaturasi terjadi
ketika protein alami membentang akibat putusnya jembatan disulfida atau
terganggunya gaya tarik lemah. Denaturasi protein mungkin dapat balik dan
mungkin juga tidak. Protein pada putih telur membentang dan membeku menjadi
bahan serupa karet jika direbus.
Denaturasi ini tak dapat balik karena protein tersebut tidak mungkin kembali ke
keadaan semula. pH yang ekstrem dan banyak bahan kimia juga dapat menyebabkan
denaturasi tak dapat balik, yaitu dengan menggangu gaya tarik yang lemah. Protein denaturasi yang dapat balik,protein
membentang karena adanya senyawa pendenatur seperti laretan urea pekat, tetapi
kembali melipat setelah senyawa
tersebut tak ada. Denaturasi yang dapat atau tak dapat balik cukup
beragam,bergantung pada protein yang bereaksi dan keadaan reaksi (Anwar, 2009).
Salah satu kelompok
senyawa organik yang terdapat dalam tumbuhan, hewan, atau manusia dan yang
sangat berguna bagi kehidupan manusia ialah lipid. Untuk memberikan definisi
yang jelas tentang lipid sangat sukar, sebab senyawa yang termasuk lipid tidak
mempunyai rumus struktur yang serupa atau mirip. Sifat kimia dan fungsi
biologinya juga berbeda-beda. Walaupun demikian para ahli biokimia bersepakat
bahwa lemak dan senyawa organik yang mempunyai sifat fisik seperti lemak,
dimasukkan dalam satu kelompok yang disebut lipid.Adapun sifat fisika yang
dimaksud ialah : tidak larut dalam air, tetapi larut dalam satu atau lebih dari
satu pelarut organik misalnya eter, aseton,kloroform,benzena yang sering juga
disebut pelarut lemak; ada hubungan dengan asam-asam lemak atau esternya;
mempunyai kemungkinan digunakan oleh makhluk hidup. Kesepakatan ini telah
disetujui oleh Kongres Internasional Kimia Murni dan Terapan. Jadi berdasarkan pada sifat fisika tadi,
lipid dapat diperoleh dari hewan atau tumbuhan dengan cara ekstraksi
menggunakan alkohol panas, eter, atau pelarut lemak yang lain. (Poedjiadi, 1994).
Untuk mengidentifikasi
kualitas lemak atau minyak dapat dilakukan uji sifat fisika dan kimianya,
antara lain indeks bias, viskositas, berat jenis, bilangan penyabunan, bilangan
asam, bilangan iod dan bilangan peroksida. Bilangan penyabunan adalah jumlah
19miligram KOH yang diperlukan untuk menyabunkan satu gram lemak atau minyak. Bilangan asam
merupakan jumlah miligram KOH yang dibutuhkan untuk menetralkan asam-asam lemak
bebas yang terdapat pada satu gram lemak atau minyak. Bilangan peroksida didefiniskan sebagai jumlah
mg peroksida dalam setiap 1000 g (1 kg) minyak atau lemak. Bilangan iod adalah
jumlah gram iod yang dapat diikat oleh 100 gram lamak atau minyak, ikatan
rangkap yang ada pada lemak tidak enuh akan bereaksi dengan iod atau
senyawa-senyawa iod. Bilangan iod menyatakan derajat ketidakenuhan lemak atau
minyak (Tim Penyusun Praktikum Biokimia, 2010 ).
C. ALAT DAN BAHAN
Alat:
Ø Tabung reaksi
Ø Gelas arloji
Ø Spatula
Ø Water bath
Ø Penjepit
Ø Thermometer
Ø Pipet tetes
Ø Kertas saring
Ø Erlenmeyer
Ø Beaker glass
Bahan:
Ø Glukosa, Fruktosa
Ø Telur
Ø Minyak goreng
Ø Sukrosa
Ø Reagen Benedict
Ø Amilum
Ø Aquades
Ø HCL pekat 0,1 dan 1 M
Ø Iodine
Ø H2SO4
Ø Eter
Ø Buffer Asetat (pH 4,7)
Ø Etanol 95%
Ø Pb Asetat
Ø NaOH 0,1 M dan 1 M
Ø HCL 0,1 M dan 1 M
D.
PROSEDUR
KERJA
1. SKEMA KERJA UJI KARBOHIDRAT
a. Benedict
Test
Tabung reaksi I Tabung reaksi II Tabung reaksi III Tabung reaski IV
(glukosa) (fruktosa)
(sukrosa) (amilum)
+ 2 ml larutan benedict
Hasil
- Dipanaskan
2 menit di water bath
Hasil
b. Hydrolisa
Disakarida
2
% sukrosa 3ml
Tabung
reaksi I Tabung
reaksi II
+
3ml air + 3 ml air
+
3 tetes HCL pekat +
5 tetes reagen benedict
- Dipanaskan 5 menit
Hasil Hasil
+ 15 tetes NaoH 1M
+ 5 tetes reagen benedict
Hasil
c. Hydrolisa
Polisakarida
2 % Amilum 3ml
Tabung reaksi I Tabung reaksi II
+
3 tetes HCL pekat + Iodine
-
Dipanaskan
Hasil
Hasil
+
3 tetes NaOH 1 M
+
5 tetes reagen benedict
-
Dipanaskan lagi
5 menit
Hasil
+
Dimasukkan 1 tetes larutan ke dalam piring porselin berisi Iodine
|
Hasil
2. SKEMA
KERJA UJI PROTEIN
a. Uji
Pengendapan dengan alkohol
5
ml protein
Tabung reaksi I
Tabung reaksi II Tabung
reaksi III
+ 1 ml HCL + 1ml NaOH 0,1 M +1 ml buffer asetat
+ 5 ml etanol 95%
+ 5 ml etanol 95% +5 ml etanol 95 %
Hasil Hasil Hasil
b. Uji
denaturasi Protein
9
ml protein
Tabung
reaksi I Tabung reaksi II Tabung
reaksi III
+1 ml HCL 0,1 M +1 ml NaOH 0,1 M +
1 ml buffer asetat
- Dipanaskan 15 menit -
Dipanaskan 15 menit - Dipanaskan 15menit
Hasil
Hasil Hasil
3. SKEMA
KERJA UJI LEMAK
a. Uji
kelarutan
1
ml minyak goreng
Tabung
reaksi I Tabung
reaksi II Tabung reaksi III Tabung
reaksi IV
+ 1 ml air
+ 1 ml etanol + 1 ml eter
+ 1 ml NaOH 1 M
-
Diaduk - Diaduk
- Diaduk - Diaduk
Hasil
Hasil Hasil Hasil
b. Penyabunan
lemak
Gelas bekker
+ 5 ml minyak goreng
+ NaOH
1 M
`
+ Dipanaskan pada suhu 700 C
Hasil
+ Ditambahkan HCl 1 M 5 ml
Hasil
E. HASIL
PENGAMATAN
1. UJI
KARBOHIDRAT
a. Benedict
test
|
Tabung
Reaksi No
|
Jenis
Karbohidrat
|
Indikator
Benedict
|
|
1
|
Glukosa
|
Biru
menjadi merah bata
|
|
2
|
Fruktosa
|
Biru
menjadi merah bata
|
|
3
|
Sukrosa
|
Tidak
ada perubahan warna (tetap biru)
|
|
4
|
Amilum
|
Tidak
ada perubahan warna (tetap biru)
|
b. Hydrolisa
Disakarida
|
Tabung
reaksi No
|
Sukrosa
|
HCL
pekat
|
Benedict
|
Indikator
|
|
1
|
3
ml
|
3
tetes
|
5
tetes
|
Warna
oranye
|
|
2
|
3
ml
|
-
|
5
tetes
|
Warna
bening kebiruan
|
c. Hydrolisa
Polisakarida
|
Tabung
reaksi No
|
Amilum
|
HCL
Pekat
|
Benedict
|
Indikator
|
|
1
|
3
ml (+iodium)
|
3
tetes
|
5
tetes
|
Hijau muda
|
|
2
|
3
ml (+iodium)
|
-
|
-
|
Biru tua
|
2. UJI
PROTEIN
a. Uji
pengendapan dengan alkohol
|
Tabung
Reaksi No
|
Pereaksi
|
Hasil
|
|
I
(5 ml Protein)
|
1
ml HCL 0,1 M
5
ml etanol 95 %
|
Terbentuk
endapan di permukaa larutan (HCL 0,1 M
dan etanol 95 % tidak larut).
|
|
II
(5 ml Protein)
|
1
ml NaOH 0,1 M
5
ml etanol 95%
|
Tidak
terbentuk endapan (NaOH 0,1 M dan etanol 95 % larut).
|
|
III
(5 ml (protein)
|
1
ml buffer asetat
5
ml etanol 95 %
|
Terbentuk
endapan di permukaan larutan (Buffer asetat dan etanol 95 % tidak larut)
|
b. Uji
denaturasi protein
|
Tabung
|
Pereaksi
|
Perlakuan
|
Hasil
|
|
|
I (9 ml Protein)
|
1 ml HCl 0,1 M
|
Dipanaskan selama 15 menit di water bath.
|
Terjadi endapan berwarna putih pada dasar larutan dan pada
permukaan berwarna bening. Semua bagian membeku.
|
|
|
|
|
II (9 ml Protein)
|
1 ml NaOH 0,1 M
|
Dipanaskan selama 15 menit di water bath.
|
Terjadi endapan berwarna putih pada dasar larutan dan pada
permukaan berwarna bening dan semua bagian membeku.
|
|
|
|
|
III (9 ml Protein)
|
1 ml buffer asetat
|
Dipanaskan selama 15 menit di water bath.
|
Dari atas permukaan hingga bawah hanya terjadi pembekuan
|
|
|
3. UJI
LEMAK
a. Uji
kelarutan
|
Tabung
reaksi No
|
Pereaksi
|
Hasil
|
|
I (1 ml minyak goreng)
|
1
ml air
|
Tidak
larut
|
|
II
( 1 ml minyak goreng)
|
1
ml etanol
|
Tidak
larut
|
|
III
(1 ml minyak goreng)
|
1
ml eter
|
Larut
|
|
IV
(1 ml minyak goreng)
|
1
ml NaOH
|
Tidak
larut
|
b. Penyabunan
lemak
|
Tabung
|
NaOH
1 M
|
Pemanasan
|
HCL
1 M
|
Hasil
|
|
1
|
42
ml
|
20
menit
|
5
ml
|
Terbentuk
sabun
|
F. PEMBAHASAN
Benedict test memberi warna merah bata
pada uji karbohidrat glukosa dan fruktosa. Tetapi tidak memberi perubahan warna
pada sukrosa dan amilum. Adapun dalam percobaan ini dilarutkan masing-masing 2 ml benedict dan 2 tetes
karbohidrat(glukosa, fruktosa, sukrosa, amilum)
pada setiap tabung reaksi, kemudian dipanaskan selama 2 menit. Pada saat
sebelum dipanaskan, percampuran benedict dan karbohidrat belum memperlihatkan
perubahan warna apapun. Baru setelah dipanaskan terjadi perubahan warna.
Benedict test juga memberi endapan pada karbohidrat. Hasil hyrolisa Disakarida
salah satunya adalah sukrosa. Pada percobaan pengujian karbohidrat (dlam hal
ini sukrosa) uji hydrolisa disakarida, digunakan 2 buah tabung yang berisi
sukrosa 2 % 3ml dengan perlakuan yang
berbeda. Pada tabung reaksi I sukrosa 2 % 3ml ditambahkan dengan 3 ml air + 3 tetes HCL lalu
dipanaskan dan setelah dingin dinetralkan dengan 15 tetes NaOH 1 M kemudian
ditambahkan 5 tetes reagen benedict. Sedangkan pada tabung reaksi II hanya ada
penambahan 3ml air dan 5 tetes reagen benedict tanpa ada HCL pekat dan proses
pemanasan. Proses pemanasan larutan pada tabung I memberi warna oranye
sedangkan larutan pada tabung II tanpa pemanasan dan HCL pekat member warna
bening kebiruan. Hasil hydrolisa polysakarida
salah satunya adalah amilum. Sama dengan pengujian karbohidrat sebelumnya
(Hydrolisa disakarida), pada percobaan ini digunakan 2 buah tabung reaksi yang
berisi amilum 2% 3ml dengan perlakuan yang berbeda. Amilum pada tabung reaksi I
dilarutkan dengan 3 tetes HCL lalu dipanaskan. Pada perlakuan ini, larutan
belum menunjukkan perubahaan warna. Kemudian mengalami proses pemanasan lagi setelah ditambahkan NaOH 1 M dan Reagen
Benedict. Sebelum perlakuan berakhir, larutan pada tabung reaksi I diambil
setetes dan ditambahkan pada piring porselin yang berisi Iodine. Larutan
menunjukkan perubahan warna setelah pemanasan kedua, larutan berubah warna dari
puti menjadi hijau muda. Penambahn larutan pada iodine, menyebabkan perubahan
wujud dari iodine yang semula padat menjadi cair dan berwarna biru tua pekat.
Sedangkan pada tabung reaksi II, hanya terdapat penambahan iodine pada amilum
2% 3ml. Perlakuan ini member perubahan warna pada larutan menjadi biru tua.
Pengujian protein dapat dilakukan
dengan dua pengujian diantaranya: uji pengendapan dengan alcohol dan uji
denaturasi protein. Pada uji pengendapan dengan alcohol, disediakan 3 tabung
reaksi yang masing-masing berisi 5 ml protein dan 5 ml etanol 95 %. Kemudian
diberikan 3 macam pereaksi pada yang berbeda-beda untuk setiap tabung. Pada
tabung reaksi I diberikan 1 ml HCL 0,1 M
, tabung reaksi II 1 ml NaOH 0,1 M dan tabung reaksi III 1ml
buffer asetat. Dari ketiga pengujian didapatkan hasil bahwa hanya buffer
asetat+NaOH 0,1 M yang dapat larut dalam larutan protein tanpa menimbulkan
endapan. Sedangkan dua larutan lainnya, tidak menunjukkan kelarutan pada
larutan protein. Hal ini dibuktikan dengan adanya endapan pada larutan yang
tidak larut. Pengujian denaturasi protein, memberikan masing-masing 9ml larutan
protein pada 3 buah tabung reaksi. Tabung reaksi I, ditambahkan dengan 1 ml HCL
0,1 M, Tabung reaksi II dengan 1 ml NaOH 0,1 M, dan tabung reaksi III dengan 1ml
buffer asetat. Kemudian dilakukan proses pemanasan masing-masing selama 15
menit. Hasil dari proses ini adalah terbentuknya endapan berwarna putih pada
dasar larutan, warna bening pada permukaan larutan, dan pembekuan pada semua
bagian larutan. Namun pada tabung reaksi III hanya terjadi pembekuan tanpa
adanya endapan.
Pengujian lemak dilakukan
dengan dua cara, yaitu: Uji kelarutan dan uji penyabunan.Pada uji kelarutan,
disetiap tabung reaksi ditambahkan 9 ml minyak goreng dengan masing-masing
pereaksi yang berbeda-beda. Pada tabung reaksi I ditambahkan 1 ml air, tabung reaksi II ditambahkan 1 ml etanol,
tabung reaksi III ditambahkan 1 ml eter, tabung reaksi IV ditambahkan 1 ml NaOH
1 M. Hasil dai setiap tabung reaksi adalah: Pada tabug reaksi I, didapatkan
hasil bahwa lemak (minyak) tidak larut dalam air dan menyebabkan air menjadi
keruh. Pada tabung reaksi II, lemak (minyak) dalam etanol tidak larut. Begitu
juga pada tabung reaksi IV, lemak (minyak) tidak larut dalam NaOH. Tetapi lain
halnya dengan tabung reaksi III, ternyata minyak dapat larut dalam eter. Pada
pengujian penyabunan lemak, hanya dibutuhkan satu gelas beker yang berisi 5 ml
minyak goreng dan penambahan NaOH 1
M dan HCL 1 M, kemudian mengalami proses
pemanasan pada suhu 70o C. Proses ini membuktikan proses penyabunan
lemak yang dimulai dari timbulnya buih, lalu terbentuknya sabun yang masih
belum mengeras dan pada akhirnya terbentuk sabun yang telah mengeras dengan
penambahan HCL 1 M.
G. KESIMPULAN DAN SARAN
1. KESIMPULAN
Uji karbohidrat dengan indikator
benedict terjadi perubahan warna. Pada glukosa, indikator benedict memberikan warna
merah bata dan menimbulkan endapan. Begitu juga pada Fruktosa. Namun, Indikaor
benedict tidak memberikan perubahan
warna dan endapan pada sukrosa dan amilum. Uji hydrolisa disakarida, pada
tabung reaksi I menghasilkan larutan berwarna putih bersih sebelum pemanasan
dan setelah pemanasan larutan berwarna oranye. Pada tabung reaksi II, menghasilkan
larutan berwarna bening kebiruan. Uji hydrolisa
polisakarida, pada tabung reaksi I, warna berubah dari putih menjadi hijau
muda. Pada tabung reaksi II, terdapat penambahan iodine pada amilum yang
menyebabkan perubahan warna menjadi biru tua.
Uji protein melalui pengendapan dengan alkohol, pada
tabung reaksi I dan III terdapat endapan di permukaan larutan, namun pada
tabung reaksi II tidak terdapat endapan. Sedangkan melalui uji denaturasi
protein, pada tabung reaksi I dan II, terjadi endapan dan pembekuan larutan.
Endapan terjadi di dasar larutan sedangkan pembekuan terjadi di seluruh bagian.
Endapan berwarna putih dan pada permukaan berwarna bening. Namun pada tabung
reaksi III hanya terjadi pembekuan di seluruh bagian larutan tanpa disertai
endapan.
Uji lemak melalui uji kelarutan, dari
empat tabung reasi yang direaksikan, hanya pereaksi eter yang dapat melarutkan minyak dalam air. Sedangkan
tabung reaksi I, II, dan IV yaitu pereaksi ar, etanol, dan NaOH, menyebabkan
minyak tidak larut. Ketidaklarutan minyak dalam pereaksi tersebut menyebabkan
warna keruh pada pereaksi. Sedangkan
melalui uji penyabunan lemak, didapatkan bahwa penambahan NaOH ke dalam gelas
bekker sedikit demi sedikit menyebabkan timbulnya buih-buih sabun yang lama kelamaan
akan membentuk sabun yang masih belum mengeras (lembek). Setelah penambahan HCl
1 M sebanyak 5 ml akan menyebakan mengerasnya sabun.
2. SARAN
Dalam melakukan percobaan ini,
diperlukan kehati-hatian dalam memperlakukan alat dan bahan yang ada. Terutama pada pengambilan bahan-bahan keras
seperti etanol dengan pipet tetes. Pastikan posisi pipet tidak membuat etanol merembes
pada karet pipet. Kemudian hindari penggunaan pipet yang sama untuk pengambilan larutan yang berbeda. Dalam
proses penyabunan lemak, harus dipastikan benar berapa suhu yang tepat untuk
pemanasan agar sabun dapat terbentuk.
DAFTAR
PUSTAKA
Tim penyusun, 2000. Kimia SMA. Jakarta: Intan Pariwara.
Harold hart, Leslie E
Craine, David J. Hart. 2003. Organic
Chemistry a short course. Michigan: Houghton MifflinCompany.
Rex Montgomery, Robert
L. Dryer, Thomas W. Conway, Arthur A. Spector. 1994. Biokimia sutu pendekatan berorientasi kasus.Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
Anwar, Yunita Arian
Sani. 2009. Buku ajar Biokimia 1.
Universitas Matarm Press
Poedjiadi, Anna.
1994. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta : UI Press.
Tim Penyusun
Praktikum Biokimia. 2010. Petunjuk Praktikum Biokimia. Mataram :
Fakultas
MIPA Unram.
Hartono,
Andry.2006. Terapi Gizi dan Diet Rumah Sakit. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran
EGC.